Jam'iyyah / Muktamar NU
Surat Rais Aam soal Lokasi Munas - Konbes NU Dikritik, Ini Alasannya
Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar jadi sasaran kritik setelah beredar Surat Instruksi Rais Aam terkait lokasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU (Munas-Konbes NU) yang digelar di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri pada 20-21 Juni 2026.
SURABAYA (SuaraNahdliyin.id) - Pasalnya, Surat Instruksi itu hanya diteken oleh KH Miftachul Akhyar dan selanjutnya hanya disampaikan pemberitahuan lewat WhatsApp (WA) kepada Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).
"Pilihan dan keputusan tersebut telah saya komunikasikan kepada yang terhormat Ketua Umum PBNU melalui pesan WhatsApp sejak tanggal 1 Juni 2026," demikian bunyi surat instruksi yang ditandatangani Kiai Miftachul Akhyar, yang diterima SuaraNahdliyin.id Selasa, 2 Juni 2026.
Surat Instruksi Rais Aam itu banyak diposting di media sosial hingga langsung memicu perdebatan. Sebagian besar netizen menyayangkan Rais Aam seperti mengambil keputusan sepihak terkait lokasi Munas dan Konbes NU tahun 2026.
Apalagi lokasi Munas Konbes NU di Pesantren Ploso ini sebelumnya sudah diusulkan oleh Sekjen PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul) saat Rapat Pleno PBNU di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Namun Rapat Pleno saat itu hanya menetapkan tanggal Munas -Konbes, sementara lokasinya menunggu hasil tim kecil yang melakukan survei ke beberapa pesantren yang sudah diusulkan jadi tuan rumah. Hal ini menjadi pertanyaan, seakan hanya usulan Gus Ipul yang diakomodir.
Akun Ali Maksum saat mengomentari postingan surat Rais Aam di grup Facebook NU Garis Lucu mengatakan, "Nampaknya masih ada yang janggal dengan pengurus PBNU.
Lalu Aenur Roveex Al Bawanji menambahkan, poin 3 apakah cukup dengan WA? Maksudnya apakah Rais Aam memberi tahu ketua umum cukup hanya dengan WA? Sebagài organisasi mestinya perlu dilakukan rapat lagi dengan tim survei yang juga dihadiri oleh ketua umum guna membuat keputusan soal lokasi Munas-Konbes.
Bahkan akun Ahmad Syaifin mempertanyakan kemungkinan ada pihak yang mengadu domba,
Al Munawi Achmed juga memposting surat Rais Aam itu di akun Facebooknya, "Saya baru tahu kalau Rois Syuriah NU adalah pemilik NU itu sendiri. Hebat hebat hebat....,Surat Organisasi TTD nya hanya Rois, itu membuktikan ada yang aneh atau saya ngga paham ber Organisasi," katanya.
Dalam surat yang ditujukan kepada Ketua Umum PBNU, Ketua-Sekretaris Panitia SC dan OC Munas-Konbes NU itu, Kiai Miftachul Akhyar menjelaskan bahwa Rapat Pleno PBNU pada 21 Mei 2026 telah memutuskan waktu pelaksanaan Munas- Konbes NU pada 20-21 Juni 2026.
Adapun penetapan lokasi akan dilakukan dengan mempertimbangkan hasil pengecekan lokasi oleh Tim Survei yang dibentuk khusus untuk keperluan tersebut.
"Setelah mempelajari dengan seksama laporan Tim Survei yang merekomendasikan tiga calon lokasi Munas Alim Ulama dan Konbes NU dan setelah mendapatkan pertimbangan dari aspek ruhaniah, saya memilih dan memutuskan Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri sebagai lokasi penyelenggaraan Munas Alim Ulama dan Konbes NU pada tanggal 20-21 Juni 2026," kata Kiai Miftah.
Mengingat waktunya sudah mepet, Kiai Miftah menginstruksikan agar Panitia Munas baik SC maupun OC untuk segera bekerja sekuat tenaga dan berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan dalam menyiapkan penyelenggaraan Munas-Konbes NU dengan sebaik-baiknya.
"Demikian petunjuk dan instruksi ini saya sampaikan untuk ditindaklanjuti sebagaimana mestinya. Semoga Allah meridhai serta menganugerahkan rahmat dan ma’unah-Nya kepada kita semua," pungkasnya.
Yang juga jadi pertanyaan, sampai tulisan ini dibuat, bahkan pihak Ploso pun tidak pernah bersurat kepada PBNU tentang permohonan kesanggupan menjadi tuan rumah Munas atau pun Muktamar ke-35 NU. Bahkan sebaliknya, Lirboyo sudah mengirimkan surat kesanggupan sebagai tuan rumah penyelenggaraan Muktamar tertanggal 19 Mei 2026.
"Aneh kan, semua usulan yang dilakukan resmi melalui surat ke PBNU seperti diabaikan, dan yang diterima usulan Gus Ipul?" kata netizen.
Yang juga menarik Wakil Ketua Umum PBNU, Amin Said Husni, seperti dikutip dari NU Online, Selasa (2/6/2026), menegaskan bahwa hingga kini, terdapat tiga pesantren yang masuk dalam daftar kandidat lokasi penyelenggaraan event tersebut
"Insya Allah dilaksanakan pada 20–21 Juni. Untuk tempat masih menunggu keputusan final. Alternatifnya ada tiga, yakni Pondok Pesantren Al-Kautsar Al-Akbar Medan, Pondok Pesantren Shiin Al-Falah Padang, dan Pondok Pesantren Al-Falah Ploso," katanya Selasa.
Meski demikian, keputusan mengenai lokasi pelaksanaan Munas-Konbes belum ditetapkan. PBNU masih menunggu persetujuan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf.
"Untuk tempat masih menunggu keputusan Rais Aam dan Ketua Umum," ujar Katib Aam PBNU, KH Said Asrori.
Sebelumnya, sejumlah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) telah menyatakan kesiapan menjadi tuan rumah pelaksanaan Munas-Konbes maupun Muktamar ke-35 NU. Beberapa wilayah yang mengajukan diri antara lain PWNU Nusa Tenggara Barat (NTB), Sumatra Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. (jok)