Suara Nahdliyin

Jam'iyyah

PCNU Kota Bandung Gelar Istighosah dan Doa Bersama Sambut Muktamar ke-35 NU

PCNU Kota Bandung menggelar acara Doa Bersama dan istighotsah sekaligus Musyawarah Ulama NU Jawa Barat, untuk menyambut sekaligus mendoakan agar Muktamar ke-35 NU diberikan kelancaran.

9 Juli 2026 12.36
PCNU Kota Bandung Gelar Istighosah dan Doa Bersama Sambut Muktamar ke-35 NU
Suasana Doa Bersama dan Istighotsah jelang Muktamar ke-35 NU yang diselenggarakan PCNU Kota Bandung di Pesantren Sirnamiskin.

BANDUNG (SuaraNahdliyin.id) – Penetapan Pondok Pesantren (Ponpes) Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Jawa Timur, sebagai lokasi Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) mendapat sambutan hangat dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bandung. Hal ini ditandai dengan digelarnya acara Doa Bersama dan Istighotsah sekaligus Musyawarah Ulama NU Jawa Barat, pada Selasa (6/7/2026) siang.

Kegiatan yang digelar di Pondok Pesantren Sirnamiskin ini, berlangsung khidmat dengan mengusung tema 'Menuju Muktamar Bermartabat'. Musyawarah ini diawali dengan doa bersama dan istighosah untuk keselamatan bangsa serta kelancaran agenda-agenda besar NU ke depan.

Pimpinan Pondok Pesantren Sirnamiskin, KH Achmad Saefurridjal berharap berharap, kegiatan yang dihadiri para kiai dan tokoh NU se-Jawa Barat ini membawa keberkahan dan kemaslahatan untuk semuanya. Acara ini menghadirkan Ketua Pengurus Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PP Pergunu), KH Asep Saepudin Chalim, sebagai pembicara utama.

Ia mengingatkan bahwa NU didirikan atas dua pilar utama, yaitu mengawal paham Ahlussunnah Wal Jamaah serta memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, di era modern saat ini, kedua pilar tersebut harus ditransformasikan secara nyata demi kemajuan bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Asep menjelaskan, bahwa paham Aswaja yang dianut oleh NU memiliki sifat inklusif, moderat (mudar), dan menjadi rahmatan lil 'alamin. Karakteristik inilah yang dinilai mampu menjaga serta mewujudkan persatuan dan kesatuan di Indonesia. "Faham yang akan bisa mengawal dan mewujudkan persatuan dan kesatuan itu adalah Ahlussunnah Wal Jamaah. Tugas ini harus terus dilanjutkan demi keberhasilan bangsa," ujar Kiai Asep.

Kiai Asep juga menekankan bahwa misi 'Indonesia Merdeka saat ini harus digeser maknanya menjadi perjuangan mewujudkan cita-cita luhur kemerdekaan, yakni kesejahteraan dan tegaknya keadilan. Ia memaparkan agar Indonesia bisa menjadi negara yang maju, adil, dan makmur, perlu bertumpu pada empat pilar utama yang harus dilahirkan oleh kontribusi para ulama dan dunia pesantren.

Ia mengutip atsar yang diriwayatkan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib: "Kokohnya kehidupan dunia dengan empat hal, yaitu: ilmunya ulama, keadilan para pemimpin (umara), kedermawanan orang-orang kaya, dan doanya orang-orang fakir,". "Indonesia harus ditopang oleh ulama dan para ilmuwan besar, yakni para pemikir serta ahli agama yang mampu menerangi masyarakat sekaligus menjadi referensi pemandu etis bagi para birokrat," ujar Kiai Asep.

Pilar kedua adalah kehadiran birokrat yang adil, di mana setiap kebijakan dan kiprahnya murni diorientasikan untuk kemaslahatan rakyat (tasharruful imam 'alar ra'iyyah manuthun bil mashlahah).

Selanjutnya, pilar ketiga bertumpu pada pengusaha yang dermawan (loman), yaitu para pelaku ekonomi yang memiliki kepedulian sosial tinggi demi terwujudnya kesejahteraan bersama, bukan kelompok oligarki yang mengabaikan masyarakat kecil. Adapun pilar keempat berkaitan dengan terciptanya kondisi yang kondusif dan profesionalisme.

Kiai Asep menekankan bahwa jika dahulu pilar ini disimbolkan dengan doa orang-orang fakir yang mendapat perhatian, maka ke depan NU dan pesantren tidak boleh lagi melahirkan kemiskinan. Posisi ini harus diisi oleh para profesional yang berkualitas serta bertanggung jawab.

"Jadi, apabila pesantren sudah bergerak mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia serta mampu melahirkan para ilmuwan, konglomerat, dan profesional, maka insya Allah Indonesia yang adil dan makmur akan terwujud. Dan itu adalah tanggung jawab NU," tegasnya.

Melalui momentum ini, Kiai Asep berharap Muktamar ke-35 NU mendatang mampu membawa perubahan besar dan melahirkan nahkoda organisasi yang tepat. "Semoga kita berhasil memilih pemimpin-pemimpin yang memahami esensi dan tujuan ber-NU; pemimpin yang paham bagaimana NU dulu didirikan dan ke mana arah yang harus dituju sekarang," pungkasnya.

Kegiatan ini dihadiri sejumlah pengurus PWNU Jawa Barat. Di antaranya adalah Wakil Ketua PWNU Jabar KH. Dasuki, Wakil Rais PWNU Jabar KH Ubaedillah Harits, Wakil Rais PWNU Jabar KH Busyrol Karim, serta jajaran Wakil Sekretaris PWNU Jabar antara lain H. Dindin C Nurdin dan H Aceng Muhyi.​​​​​​​

Sementara itu, dari jajaran PCNU Kota Bandung, hadir antara lain Rais Syuriah KH Khoeruddin Aly, Ketua PCNU Kota Bandung KH Ahmad Haedar, serta Sekretaris H Iik Abdul Chalik, banom dan lembaga, perwakilan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) dan pimpinan pesantren di lingkungan PCNU Kota Bandung. noj/rai