Warta
PBNU Beri “Beasiswa Peradaban” Enam Mahasiswa Asing Kuliah di Kampus UAC Mojokerto
PBNU bersama BAZNAS melalui NU Scholarship memberikan “Beasiswa Peradaban” kepada enam mahasiswa asing dari berbagai negara untuk menempuh pendidikan di Universitas KH. Abdul Chalim (UAC), Mojokerto.
JAKARTA (SuaraNahdliyin.id) – Sebanyak enam mahasiswa dari berbagai negara menerima "Beasiswa Peradaban" untuk menempuh pendidikan di Universitas KH. Abdul Chalim (UAC), Mojokerto, Jawa Timur. Beasiswa tersebut merupakan hasil kerja sama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan BAZNAS RI melalui NU Scholarship.
Sumbangsih ini menjadi bagian dari ikhtiar PBNU dalam memperkuat diplomasi pendidikan, memperluas jejaring keilmuan global, serta menghadirkan Indonesia sebagai pusat pendidikan Islam moderat yang terbuka bagi masyarakat internasional.
Keenam mahasiswa international tersebut, adalah Ahmad Fraidon Qaderi (Afghanistan), Zakaria Nait Mohand (Aljazair), Abdulhameed Mubarak Adinoyi (Nigeria), Issa Asili Omary (Tanzania), Ibad Ali Jan (Pakistan), dan Nafisa Sikder (Bangladesh). Para penerima beasiswa ini resmi mengikuti Orientasi Penerima Beasiswa Peradaban di Gedung PBNU, Jakarta, Rabu (15/7/2026) sebelum memulai studi di Universitas KH Abdul Chalim (UAC) Mojokerto.
"Program ini menjadi bagian dari komitmen PBNU dalam memperluas jejaring akademik global sekaligus mengenalkan wajah Islam Indonesia yang moderat, toleran, dan berkeadaban kepada masyarakat internasional," kata Sekretaris Lakpesdam PBNU Ufi Ulfiah, Rabu (15/7/2026).
Ia menjelaskan, ke enam mahasiswa ini akan menempuh pendidikan pada jenjang sarjana maupun magister di Universitas KH Abdul Chalim dengan dukungan beasiswa penuh. Beasiswa Peradaban tidak hanya memberikan kesempatan belajar di Indonesia, tetapi juga memperkenalkan nilai-nilai keislaman Nahdlatul Ulama kepada para calon pemimpin dunia.
"Selamat datang kepada seluruh penerima Beasiswa Peradaban. Kami berharap kesempatan ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya, bukan hanya untuk memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga untuk mengenal Indonesia, memahami tradisi keislaman Nahdlatul Ulama, serta kelak memperkenalkan pengalaman tersebut kepada masyarakat di negara masing-masing," ujarnya.
Perwakilan BAZNAS RI, Kepala Divisi Pendidikan dan Dakwah, Farid Septian, mengatakan dukungan terhadap Program Beasiswa Peradaban merupakan bagian dari komitmen BAZNAS dalam mengoptimalkan pengelolaan zakat agar memberikan manfaat yang lebih luas, termasuk di bidang pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.
"BAZNAS memiliki visi mengelola zakat agar memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan. Pendidikan merupakan salah satu investasi terbaik untuk melahirkan pemimpin masa depan. Karena itu, kami mendukung berbagai program beasiswa, termasuk Beasiswa Peradaban dan program beasiswa bagi masyarakat Gaza melalui kerja sama dengan berbagai kementerian," katanya.
Menurut Farid, Universitas KH Abdul Chalim Mojokerto dipilih sebagai kampus tujuan karena memiliki kapasitas akademik yang memadai sekaligus lingkungan yang kuat dalam pengembangan tradisi Islam Ahlussunnah wal Jamaah ala Nahdlatul Ulama. "Selain pendidikan, kami juga memiliki program filantropi dan riset yang dapat menjadi ruang kolaborasi bagi para mahasiswa selama menempuh studi di Indonesia," tambahnya.
Direktur NU Scholarship Muhammad Syauqillah menjelaskan bahwa NU Scholarship yang berdiri pada 2024 terus mengembangkan berbagai skema beasiswa, mulai dari Beasiswa Aktivis NU, program persiapan studi luar negeri jenjang magister dan doktor, Beasiswa Maroko, Beasiswa Peradaban, hingga program persiapan sarjana unggulan dan pelatihan kerja luar negeri.
"Beasiswa Peradaban merupakan salah satu program strategis NU Scholarship. Kami ingin memperluas akses pendidikan, tidak hanya bagi kader NU, tetapi juga masyarakat yang lebih luas, termasuk mahasiswa internasional yang ingin mengenal Indonesia dan tradisi Islam moderat yang berkembang di sini," ujarnya. ali/rai