Suara Nahdliyin

Jam'iyyah / Banom

Muktamar Kebudayaan 2026 Resmi Dibuka, Nyai Hizbiyah Minta Lesbumi Atasi Maraknya Anak Terjerat Judi Online

Muktamar Kebudayaan Lesbumi 2026 mengenang KH Abdul Wahab Hasbullah, gelisah maraknya judi online, hingga degradasi moral dan krisis kepercayaan.

13 Juni 2026 00.31
Muktamar Kebudayaan 2026 Resmi Dibuka, Nyai Hizbiyah Minta Lesbumi Atasi Maraknya  Anak Terjerat Judi Online
Suasana pembukaan Muktamar Kebudayaan Lesbumi 2026 di Tambakberas Jombang Jumat malam.

JOMBANG (SuaraNahdliyin.id) - Muktamar Kebudayaan Indonesia 2026 yang digelar Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Kampus Universitas KH Wahab Hasbullah (Unwaha) Tambakberas, Jombang, resmi dibuka Jumat (12/6/2026) malam. Acara yang mengusung tema ‘Kembali kepada Akar’ ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari hingga Minggu, 14 Juni 2026.

​Prosesi pembukaan muktamar ditandai dengan momen khidmat pembacaan Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 oleh Wakil Rektor Unwaha, KH Dr. M. Wafiyul Ahdi (Gus Wafi), yang diikuti secara bersama-sama serentak oleh seluruh muktamirin yang hadir dari berbagai penjuru tanah air.

​Dalam sambutannya, Nyai Hj. Hizbiyah Rochim Wahab, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi mendalam atas dipilihnya Unwaha sebagai lokasi muktamar.

Pilihan tempat ini dinilai sangat tepat dan historis mengingat almarhum sang ayah, KH Abdul Wahab Hasbullah, merupakan tokoh kunci pendiri Lesbumi sekaligus salah satu penggerak utama lahirnya organisasi Nahdlatul Ulama.

​Nyai Hizbiyah lalu menceritakan kembali secuil fragmen sejarah perjuangan Kiai Wahab yang gigih bergerak meminta restu kepada para ulama sepuh, termasuk sowan ke KH Hasyim Asy’ari.

Perjuangan panjang tersebut melalui proses spiritual yang mendalam lewat istikharah KH Hasyim Asy’ari dibantu oleh Kiai Kholil Bangkalan, hingga akhirnya NU resmi berdiri dengan struktur Rais Akbar KH Hasyim Asy’ari dan Kiai Wahab Hasbullah bertindak sebagai Sekretaris Umum yang pertama.

​”Sopo wae nek kepengin berjuang, iku gak ndelok usia. Gak ndelok umur. Mau umurnya muda atau tua bukan masalah, yang penting semangat! Semangat jiwa dan hati kita yang harus ditanamkan terus sampai kapan pun,” tegas Nyai Hizbiyah memotivasi peserta muktamar.

​Selain membakar semangat para pengurus Lesbumi agar tidak kalah aktif dengan badan otonom NU lainnya seperti Muslimat, Fatayat, Ansor, maupun IPNU-IPPNU, Nyai Hizbiyah juga menitipkan pesan sosial yang krusial terkait darurat judi online.

Menyoroti data mencemaskan mengenai puluhan ribu anak-anak di bawah umur termasuk pelajar SD dan SMP yang terjerat judi online, ia mendesak Lesbumi untuk menyusun program kerja konkret.

Melalui medium seni budaya, Lesbumi diharapkan mampu menyentuh pola pikir generasi muda serta memperkuat nilai-nilai Aswaja (Ahli Sunnah wal Jamaah An-Nahdliyah) sebagai benteng moralitas masyarakat.

Dalam kesempatan itu ​Asisten Administrasi Umum Sekdaprov Jatim, Akhmad Jazuli, yang hadir mewakili Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, menyampaikan dukungan penuh pemerintah provinsi terhadap eksistensi Lesbumi.

Keberadaan Lesbumi dinilai sangat vital di era modern ini untuk membentengi generasi muda dari serbuan penetrasi budaya luar yang cenderung sekuler dan merusak moral bangsa.

Mantan Sekretaris Daerah Kabupaten Jombang tersebut menegaskan pentingnya pelestarian kesenian bernuansa islami tradisional khas NU seperti banjari, ishari, hingga seni teater rakyat. Menurutnya, kultur NU yang begitu melekat sejak manusia dalam kandungan (brokohan, selawatan) hingga kematian membuat organisasi ini begitu kokoh merangkul kehidupan masyarakat di akar rumput.

​”Dengan ilmu, hidup menjadi mudah. Dengan agama, hidup menjadi terarah. Dan dengan seni, hidup menjadi indah. Selamat maju, Lesbumi!,” ucap Akhmad Jazuli menutup sambutannya.

Sementara itu ​​Ketua Lesbumi PBNU, KH M Jadul Maula, dalam pidato kebudayaannya memaparkan bahwa penyelenggaraan muktamar tahun 2026 ini menempuh perjalanan yang penuh dinamika. Sempat direncanakan pada Oktober tahun lalu, agenda ini terpaksa ditunda akibat dinamika gejolak politik nasional serta situasi internal organisasi pada Agustus silam.

​Kiai Jadul merefleksikan situasi bangsa dan internal NU saat ini yang tengah menghadapi tantangan berat berupa degradasi moral dan krisis kepercayaan diri. Muktamar Kebudayaan ini menjadi momentum krusial untuk meneguhkan kembali jati diri dan khidmah kebangsaan sesuai amanat para founding fathers.

​Mengutip pemikiran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan tokoh budayawan nasional Asrul Sani, Kiai Jadul Maula mendefinisikan ulang esensi kebudayaan bukan sekadar panggung seni atau adat-istiadat statis, melainkan sebuah ‘kata kerja’ sebuah ikhtiar aktif dari suatu komunitas atau bangsa untuk menjawab tantangan kehidupan dan bertahan dari impitan zaman.

​Ia memetakan lima pilar kebudayaan yang saling bertaut sirkular: Agama (spiritualitas), Ilmu Pengetahuan (rasionalitas), dan Seni (rasa) di level suprastruktur ideal, yang ditopang oleh basis material berupa tata Politik-Hukum dan Ekonomi di level bumi.

“Mandeknya sirkulasi ekosistem ini berpotensi memicu depresi sosial dan meningkatnya fenomena penyakit jiwa di tengah masyarakat akibat beratnya kenyataan hidup,” terangnya.

​Menjawab pertanyaan krusial mengenai esensi tema muktamar kali ini, Kiai Jadul menegaskan arah pergerakan ke depan.

”Muktamar ini mengangkat tema ‘Kembali kepada Akar’. Akar dari kebudayaan itu sebenarnya adalah mengembalikan kesadaran manusia sebagai subjek aktif. Manusia yang berpikir mandiri dan berdaulat untuk mengatasi segala kelaparan, ketimpangan ekonomi, korupsi, serta tantangan sosial yang melanda bangsa,” pungkas Kiai Jadul Maula.

Ia berharap, Muktamar ini diharapkan tidak hanya menghasilkan garis besar haluan program kerja organisasi yang strategis bagi Lesbumi PBNU, namun juga menjadi oase kebudayaan yang menyatukan komitmen kebangsaan lewat jalur seni dan tradisi.

Di hadapan para ulama, Kiai Jadul Maula mengajak seluruh elemen untuk melakukan otokritik terhadap arah gerak Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Dalam forum ini, kita akan bicarakan cita-cita luhur yang termaktub di dalam UUD 1945, untuk nantinya kita bandingkan dengan realitas tatanan hukum, politik, dan ekonomi saat ini. Dari perbandingan inilah kita mengambil sikap kebudayaan selanjutnya," paparnya.

Sebagai informasi, Muktamar Kebudayaan Indonesia Lesbumi NU 2026 yang mengusung semboyan ‘Satu Panggung, Satu Peradaban, Satu Kebanggaan Budaya Nusantara’ ini turut disemarakkan oleh serangkaian agenda kebudayaan menarik yang terbuka bagi masyarakat umum. (jok)