Religi / Pesantren
Muktamar ke-35 NU Digelar di Ponpes Tambakberas Jombang, Ini Sejarah Pesantren yang Didirikan Kiai Sakti dari Tuban
Pesantren Tambakberas dinamakan Ponpes Bahrul Ulum oleh Mbah Wahab yang artinya lautan ilmu pengetahuan.
JOMBANG (SuaraNahdliyin.id) - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akhirnya memutuskan bahwa Muktamar ke-35 NU digelar di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27-31 Agustus 2026. Keputusan itu disahkan dalam Rapat Gabungan Harian Syuriyah-Tanfidziyah di Gedung PBNU Lantai 8, Jalan Kramat Raya 164, Salemba, Jakarta Pusat, pada Selasa (7/7/2026) malam.
Namanya Ponpes Bahrul Ulum tapi lebih dikenal sebagĂ i Ponpes Tambakberas lantaran berlokasi di Kelurahan Tambakberas, Tambakrejo, Kecamatan Jombang. Ponpes ini didirikan oleh seorang kiai sakti dari Tuban dua abad silam.
Saat ini, ponpes menampung belasan ribu santri dari berbagai daerah di Indonesia. Tak heran jika Ponpes Tambakberas merupakan salah satu yang terbesar di Jombang.
Pengasuh Ponpes Bahrul Ulum, KH Moh. Hasib Wahab Hasbulloh menuturkan, bahwa sejarah pesantren ini berawal dari tahun 1825. Kala itu, seorang kiai sakti bernama KH Abdus Salam hijrah dari Tuban ke Jombang.
Dari silsilahnya, Kiai Salam merupakan putra dari Kiai Abdul Jabbar atau Pangeran Sumoyudo. Kiai Jabbar sendiri cucu dari Penguasa Pajang, Sultan Hadiwijoyo atau Joko Tingkir. Kakek Kiai Jabbar adalah Pangeran Benowo.
"Ketika itu Beliau dicari penjajah karena tokoh penggerak, maka Beliau tinggal di situ (Dusun Gedang, Desa Tambakrejo). Dulunya masih semak-semak, belum ada penduduknya," kata Kiai Hasib.
Semasa hidupnya, Kiai Salam dijuluki Kiai Shoichah. Ini karena kesaktiannya membuat siapa saja yang ia gertak menjadi gemetar. Selama 13 tahun pertama, ia membuka hutan dan semak-semak di Dusun Gedang menjadi perkampungan baru.
Kiai Salam juga mendirikan tempat tinggal sederhana yang hanya berupa gubuk, langgar atau musala dan gubuk santri untuk menyebarkan ajaran Islam. Tahun 1838, tempat tinggal tersebut menjadi Pondok Telu. Karena bangunan yang ada baru tiga unit.
Di tempat ini, Kiai Salam kemudian lazim dikenal sebagai pondok pesantren Slawean. Karena jumlah santrinya kala itu hanya 25 orang. Slawean berasal dari kata slawe dalam Bahasa Jawa yang berarti 25. Pondok ini menjadi tempat Kiai Salam mengajarkan ilmu syariat, hakikat dan kanuragan.
"Diberi nama Pondok Slawean karena jumlah santrinya selawe. Tahun 2025 umurnya genap 200 tahun," terang Kiai Hasib.
Memasuki usia senja, Kiai Salam mewariskan pesantren tersebut kepada dua menantu sekaligus muridnya. Yaitu Kiai Ustman dan Kiai Said. Mereka mengembangkan pesantren menjadi dua cabang di Desa Tambakrejo seiring semakin banyaknya santri. Kiai Ustman mengajarkan ilmu tarekat, sedangkan Kiai Said mengajarkan ilmu syariat.
Setelah Kiai Said wafat, pengurusan pesantren diteruskan putranya, Kiai Hasbulloh. Sementara pesantren Kiai Ustman tidak ada yang meneruskan karena tidak mempunyai putra. Sehingga sebagian santrinya dialihkan ke Kiai Hasbulloh dan Beliau juga mengirim putra tertuanya, Kiai Abdul Wahab menimba ilmu di Makkah, Arab Saudi.
Pulang dari Tanah Suci tahun 1914, Kiai Abdul Wahab mengubah sistem pendidikan di pesantren ayahnya dari halaqah menjadi madrasah. Tahun berikutnya, beliau mendirikan madrasah pertama di Ponpes Tambakberas bernama Madrasah Mubdil Fan.
Sejak ayahnya wafat tahun 1920, Kiai Abdul Wahab mengelola pesantren dibantu dua adiknya yang juga menimba ilmu dari Makkah. Yakni Kiai Abdul Hamid dan Kiai Abdurrohim.
Seiring berjalannya waktu, pesantren ini berkembang sangat pesat. Baru pada tahun 1965, Kiai Abdul Wahab menamai pesantren warisan ayahnya ini dengan Ponpes Bahrul Ulum.
"Dinamakan Ponpes Bahrul Ulum oleh Mbah Wahab yang artinya lautan ilmu pengetahuan," ungkap Kiai Hasib.
Kiai Hasib menjelaskan, Kiai Abdul Wahab merupakan inisiator berdirinya Nahdlatul Ulama (NU), ormas terbesar di Indonesia. Sekitar tahun 1916, Beliau mendirikan organisasi Tasywirul Afkar yang berpusat di Surabaya. Mbah Wahab lantas mendirikan Nahdlatul Wathon tahun 1926 yang kemudian menjadi NU.
"Beliau membuat berbagai kelompok pergerakan yang dinamai dengan Bahasa Arab untuk mengelabuhi penjajah. Salah satunya Tasywirul Afkar di Surabaya sekitar tahun 1916," tandasnya.
Empat Modal
Sementara itu, putri Mbah Wahab, Nyai Hj Mundjidah Wahab, memaparkan, ada empat modal yang menjadi rahasia Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas dalam mengelola pondok, sehinga bisa bertahan dan terus berkembang di usia dua abad.
Pertama, kata dia, peranan para dzurriyah. Anak-cucu pendiri Pesantren Bahrul Ulum rata-rata masih memiliki spirit yang sama, konsentrasinya adalah mengembangkan pesantren. Bahkan, mereka para dzurriyah yang berada di lingkungan Tambakberas saat ini memiliki ribath atau pesantren masing-masing. Hingga kini ribath yang diasuh sebanyak 40 lebih.
"Meski demikian, Ponpes Bahrul Ulum punya semboyan, yakni guyub rukun saklawase. Semua pengelola ribath rukun-rukun. Ini modal utama," katanya.
Dalam perjalanannya, guyub rukun saklawase tak sekadar semboyan. Lebih dari itu sudah menjadi ruh dan komitmen bersama di antara para pengelola pesantren dalam membangun kekuatan membesarkan pesantren-pesantren Tambakberas.
"Ini sangat sesuai dengan ungkapan Mbah Wahab yang sangat populer di kalangan Nahdliyin, yaitu 'tidak ada kekuatan yang paling kuat selain persatuan'. Ini yang harus kita pegang dan kita tidak boleh bercerai berai," jelasnya.
Modal kedua, lanjutnya, Pesantren Bahrul Ulum bisa menempatkan diri. Sebagai pesantren yang berada di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang sarat dengan kemajemukan, Pesantren Tambakberas berkomitmen menjunjung tinggi spirit nasionalisme dan pluralisme. Spirit ini yang selalu ditanamkan kepada santri-santrinya agar mereka terus bersama-sama menguatkan NKRI.
"Bagi Bahrul Ulum, nasionalisme dan pluralisme adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Salah satu wujud dari hal itu adalah Mbah Wahab menciptakan lagu Ya Ahlal Wathan, cinta tanah air," ungkap perempuan yang pernah menjabat bupati Jombang ini.
Para santri Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas dididik untuk terus cinta terhadap tanah air dan kemajemukan (pluralisme). Hal ini tercermin dalam tiga prinsip dasar Pesantren Bahrul Ulum sebagaimana ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) kepada santrinya, bahwa dalam bersikap santri harus menjunjung tinggi semangat tasamuh, tawazun, dan adil.
"Tasamuh adalah toleransi, tawazun yaitu sikap seimbang, atau mencari jalan tengah dalam memecahkan persoalan, sedangkan adil bersikap lurus dan tegas di dalam mengambil keputusan dan tindakan," tuturnya.
Modal yang ketiga adalah Bahrul Ulum tanggap atau responsif terhadap laju perkembangan.
"Dan modal yang keempat bahwa Bahrul Ulum terus mewarisi dan melanjutkan tradisi spritual yang diajarkan oleh para pendirinya," terangnya.
Nyai Hj Mundjidah menegaskan, nilai-nilai spritual para pendiri Pesantren Bahrul sangat berkaitan dengan perkembangan pesantren yang ada sekarang. Pun demikian dengan sejumlah capaian yang diraih saat ini. Termasuk kepercayaan orang tua dalam menitipkan anaknya di Bahrul Ulum kian meningkat. Hingga kini belasan ribu santri tengah menimba ilmu di Pesantren Bahrul Ulum.
"Diakui atau tidak, Pesantren Bahrul Ulum masih bertahan hingga sekarang ini karena juga tirakatnya para pendiri Bahrul Ulum," pungkasnya. (jok)