Aswaja / Hikmah
Memuliakan dan Saling Membantu kepada Tetangga
Ada banyak hadits tentang bertetangga yang telah disabdakan Rasulullah. Hal ini harus dipupukkan, apalagi jika ada tetangga yang sedang kesusahan ataupun sedang sakit.
Manusia adalah makhluk sosial. Ia tidak bisa hidup sendirian, butuh orang lain dalam menjalani kehidupan ini, dan tetangga adalah orang yang paling dekat. Bahkan tetangga lebih mengetahui segala tingkah polah kita, dibandingkan keluarga sendiri yang tinggal berjauhan.
Karenanya tetangga memiliki kedudukan yang tinggi di dalam Islam. Mereka harus disayangi dan diperlakukan dengan baik. Dalam hadits Rasulullah disebutkan bahwa seorang dianggap Muslim manakala mereka berbuat baik kepada tetangganya.
Akan tetapi, tidak semua orang orang memiliki hubungan yang harmonis dengan tetangganya. Tidak sedikit dari mereka yang musuh-musuhan dengan tetangganya karena suatu persoalan.
Dalam hal memuliakan dan berbuat kepada tetangga, Rasulullah telah memberikan teladan yang baik kepada kita. Dikisahkan, suatu ketika pada saat Abu Hurairah kelaparan Rasulullah lewat di depannya. Kemudian Rasulullah meminta Abu Hurairah untuk mengikutinya. Sesampai di suatu tempat, Abu Hurairah mendapati ada susu setempayan.
Rupanya harapan Abu Hurairah meleset. Rasulullah tidak langsung memintanya untuk meminum susu. Malah Rasulullah menyuruh Abu Hurairah untuk memanggil ahli shuffah, tetangga Rasulullah yang sangat miskin, lemah, dan tidak memiliki tempat tinggal. Mereka menjadi tetangga Rasulullah karena tinggal di emperan Masjid Nabawi. Sementara rumah Rasulullah menyatu dengan Masjid Nabawi.
“Pergilah ke ahli shuffah, undang mereka ke sini,” perintah Rasulullah kepada Abu Hurairah. Pada saat ahli shuffah datang, Rasulullah langsung menyuruh mereka untuk meminum susu tersebut. Satu per satu ahli shuffah meminum susu tersebut sampai puas. Setelah semuanya kebagian, Rasulullah menyuruh Abu Hurairah untuk meminum sisa susunya hingga puas. Rasulullah sendiri juga meminum susu sisa ahli shuffah itu.
Imam Al-Ghazali dalam Ikhtisar Ihya Ulumiddin mengatakan sesungguhnya tetangga memiliki hak yang sama dengan hak kaum Muslimin secara keseluruhan. Namun, hak mereka bertambah sebab menjadi tetangga.
Rasulullah SAW bersabda, "Ada tiga macam tetangga, yaitu tetangga yang memiliki satu hak, tetangga yang memiliki dua hak dan tetangga yang memiliki tiga hak. Adapun tetangga yang memiliki tiga hak adalah tetangga Muslim yang memiliki hubungan kekerabatan. Lalu tetangga yang memiliki satu hak adalah tetangga musyrik. Sedangkan tetangga yang memiliki dua hak adalah tetangga Muslim."
Dari Aisyah r.a. Rasulullah SAW bersabda: "Jibril selalu berwasiat kepadaku agar memenuhi hak tetangga sehingga aku mengira tetangga akan menjadi ahli waris." (Bukhari, Muslim, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi)
Begitu pentingya berbuat baik kepada tetangga terutama Muslimah yang sering berinteraksi dengan mereka, seperti halnya berbuat baik kepada keluarga. Rasulullah mengingatkan agar menghormati pemberian tetangga.
Dari Abu Haurairah r.a. berkata, Nabi Muhammad saw. pernah bersabda, “Wahai para wanita muslimah, janganlah ada seorang tetangga yag meremehkan hadiah tetangganya meskipun kikil (kaki) kambing.” (Bukhari dan Muslim).
Pada situasi dan kondisi pandemi seperti ini, kedudukan tetangga sangatlah penting. Tetangga merupakan orang yang pertama membantu dan menolong saat dalam kesulitan. Sehingga, tidak selayaknya bersikap tidak peduli, tidak bertegur salam, bahkan tidak saling mengenal dengan tetangga. Wallahu a’lam. * hah