Jam'iyyah / Muktamar NU
Lora Azaim Usulkan Problematika Pesantren jadi Pembahasan di Munas-Konbes NU 2026
Problematika yang terjadi di Pondok Pesantren belakangan ini diharapkan menjadi pembahasan penting dalam materi Munas dan Konbes NU 2026.
SITUBONDO (SuaraNahdliyin.id) – Pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Falah Ploso, Mojo, Kediri, pada 20-21 Juni 2026 mendatang, menyita perhatian para tokoh NU. Salah satunya diperlihatkan Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, KH R. Azaim Ibrahimy.
Ulama kharismatik yang akrab disapa Lora Azaim ini berharap, problematika yang terjadi di Pondok Pesantren belakangan ini menjadi pembahasan penting dalam pelaksanaan Munas dan Konbes NU nanti. Menurutnya, hal ini merupakan salah satu poin krusial yang menjadi perhatian Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) maupun panitia Munas dan Konbes NU.
Menurut Wakil Syuriah PWNU Jawa Timur ini, penanganan isu kekerasan di lingkungan pesantren yang belakangan tengah menyedot perhatian publik ini sangat penting untuk dibahas secara serius forum Munas dan Konbes NU maupun Muktamar ke-35 NU mendatang. “Persoalan itu harus menjadi perhatian penting para ulama, kiai, tokoh agama di kalangan NU,” kata Lora Azaim yang merupakan cucu muassis NU KH R. As'ad Syamsul Arifin.
Ia menjelaskan, pembahasan ini sangat diperlukan untuk meluruskan opini publik, sekaligus mengikis narasi-narasi liar media sosial terkait kekerasan seksual. "Jadi, ada ketegasan kronologinya ini, kejadiannya ini, mana yang oknum, mana yang insiden, yang merusak moral dan hanya sebuah asumsi komentar liar saja di media sosial. Itu penting sekali ditegaskan," jelasnya.
Menurutnya, langkah cepat PBNU dengan mengkampanyekan Pesantrenku Aman Ramah Anak, patut diapresiasi. “Program seperti ini patut didukung dan harus terus dikampanyekan,” terang Lora Azaim.
Selain membahas tentang problematika pesantren, Lora Azaim mengingatkan semua pengurus NU, khususnya di PBNU akan pentingnya menjaga ukhuwah Nahdliyah dan memperkuat konsolidasi internal ke-NU-an. Menurutnya, momentum Muktamar merupakan bagian dari proses memilih pemimpin yang akan berkhidmat kepada umat, nusa, dan bangsa.
Ia menilai konsolidasi internal sangat penting untuk menjaga soliditas organisasi. Terlebih, momentum Muktamar berpotensi dimanfaatkan oleh berbagai kepentingan.
Karena itu, seluruh elemen NU diharapkan tetap menjaga persatuan agar pemimpin yang terpilih nantinya benar-benar mampu membimbing umat dan memberikan manfaat bagi bangsa Indonesia.
“Siapapun yang terpilih nanti, baik di jajaran Syuriyah maupun Tanfidziyah, adalah sosok yang benar-benar berkhidmat untuk umat, nusa, dan bangsa ini," harap Lora Azaim.
Ia menjelaskan, muktamar merupakan agenda resmi organisasi yang harus dipahami sebagai forum untuk kemaslahatan NU, bukan sebagai ajang pertarungan kepentingan. “Acara Muktamar adalah agenda organisasi. Karena itu, saya berharap tidak dipahami dengan perspektif dukung-mendukung atau kepentingan lainnya,” tegasnya.
Untuk itu, ia mengajak seluruh warga Nahdlatul Ulama untuk memperkuat doa dan munajat demi kelancaran forum tertinggi organisasi tersebut. Ia berharap pemimpin yang terpilih nantinya mampu membawa kemaslahatan bagi umat dan masyarakat luas.
"Kami mengajak seluruh masyarakat, khususnya warga NU, untuk bersama-sama bermunajat kepada Allah SWT agar yang terpilih nantinya dapat berkhidmat untuk umat, nusa, dan bangsa serta membawa kemaslahatan bagi kita semua. Tujuan utama kita adalah meraih ridha Allah, kebahagiaan Nabi Muhammad SAW, serta keridhaan para muassis Jam'iyah NU," pungkasnya. rad/han