Budaya
Lesbumi PBNU Gelar Muktamar Kebudayaan di Ponpes Tambakberas
Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Pengurus Besar Nahdlatul Ulma (PBNU) akan menggelar Muktamar Kebudayaan Indonesia dan Rakornas ke-VII Lesbumi. Temanya "Kembali ke Akar Kebudayaan NU."
SURABAYA (SuaraNahdliyin.id) – Muktamar Kebudayaan Indonesia dan Rakornas Lesbumi akan diadakan di Kampus Universitas KH A. Wahab Hasbullah (UNWAHA), Ponpes Tambak Beras Jombang, Jawa Timur, Jumat–Minggu 12–14 Juni 2026 / 25–27 Dzulhijjah 1447 H.
Hal itu diketahui melalui surat Lesbumi PBNU Nomor 131/B.2/LESBUMI/V/2026 yang secara resmi mengundang seluruh jajaran Lesbumi se-Indonesia untuk hadir dalam acara tersebut. Dalam surat undangan yang ditandatangani Ketua Lesbumi PBNU KH M. Jadul Maula dan Sekretaris Umum Inaya Wulandari Wahid itu disebutkan Muktamar Kebudayaan kali ini mengusung tema “Kembali ke Akar: Menguatkan Fondasi Kebudayaan NU dalam Krisis Peradaban Global”.
Di tengah disrupsi identitas, krisis geopolitik, krisis ekologis, ketidakpastian hukum, serta perlombaan emerging technology, Lesbumi memandang perlu melakukan “refleksi radikal” hingga ke akar.
“Kembali ke Akar” bukan romantisme masa lalu yang pasif. Ini upaya intelektual-kultural untuk menggali kembali khitah pesantren dan keputusan ulama otoritatif NU di forum-forum legitimatif, lalu membenturkannya dengan realitas kekinian. Tujuannya: mencari kompas dalam teks-teks formatif ke-NU-an untuk menjawab persoalan keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan yang makin kompleks.
Trilogi Kebudayaan Lesbumi: Agama, Ilmu, Seni
Mengacu Manifesto Gelanggang 1966, Lesbumi menegaskan agama, ilmu pengetahuan, dan seni adalah trilogi budaya yang tak terpisahkan.
-Agama sebagai Social Direction yaitu berfungsi sebagai kompas moral agar kemajuan ilmu dan ekspresi seni tidak kehilangan arah atau merusak nilai kemanusiaan.
- Ilmu Pengetahuan menjadi alat rasional untuk memahami realitas, mengelola modernisasi, dan memecahkan persoalan masyarakat secara objektif.
- Seni menjadi wadah ekspresi keindahan dan sarana penghalusan budi pekerti yang sejalan dengan fitrah manusia. Gagasan ini menekankan modernisasi tidak boleh berjalan sekuler hingga mencabut akar spiritual. Kemajuan zaman harus diselaraskan dengan etika keagamaan.
Disebutkan pula bahwa forum ini akan membedah relevansi dan aktualisasi jatidiri ulama para muassis NU di era negara-bangsa mutakhir. Merumuskan manifestasi “Jihad Peradaban” untuk merespons krisis geopolitik global.
Melakukan otopsi konstitusional tata kelola negara pasca-amandemen UUD terhadap spirit Pembukaan UUD 1945. Menemukan titik temu Fikih Lingkungan dengan realitas konsesi tambang NU 2024.
Mengembangkan pemikiran Aswaja an-Nahdliyyah dalam persaingan emerging technology.
Untuk itu ada 5 Komisi sebagaii Ruang Dialektika Utama:
1. Komisi Khittah: Jatidiri Keulamaan di Ruang Sekular – meninjau Qonun Asasi NU.
2. Komisi Geopolitik: Resolusi Jihad dalam Pusaran Konflik Global – kontekstualisasi Fatwa 1945 sebagai jihad peradaban.
3. Komisi Kenegaraan: Konsistensi Konstitusi – Piagam Jakarta & Pembukaan UUD 1945 vs dinamika pasca-amandemen.
4. Komisi Ekologi & Organisasi: Fikih Tambang dan Dilema Kebijakan – keputusan haram tambang 2015 vs konsesi 2024.
5. Komisi Aswaja & Teknologi: Epistemologi Aswaja untuk pengembangan sains-teknologi
Kepesertaan Mukatamar Kebudayaan
Adapun peserta kegiatan ini terdiri dari Budayawan, seniman, dan cendekiawan Lesbumi se-Indonesia; yakni perwakilan PWNU-PCNU; akademisi, pengamat sosial-politik, aktivis lingkungan; serta pemerhati sejarah dan hukum tata negara.
Sementara output kegiatan, Pertama Manuskrip Kebudayaan 2026 berisi dokumen rekomendasi strategis untuk PBNU & Pemerintah RI. Kedua, Manifesto “Kembali ke Akar” yaitu pernyataan sikap kebudayaan atas isu kontemporer. Ketiga, Buku Putih Pemikiran yakni kumpulan esai dan analisis dari 5 komisi. Keempat, Perencanaan Strategis adalah arah gerakan kultural Lesbumi NU ke depan.
Selanjutnya Ketua Lesbumi PBNU berharap muktamar ini bukan sekadar ruang diskusi, melainkan momentum NU meneguhkan peran sebagai penjaga gawang moral dan kultural bangsa.
“Dengan kembali ke akar, kita berharap menemukan kekuatan untuk tumbuh lebih tinggi tanpa tercerabut dari bumi tempat kita berpijak,” kata Ketua Lesbumi PBNU, KH M. Jadul Maula. (jok)