Jam'iyyah / Muktamar NU
Kehendak Rekonsiliasi Menguat, Formasi The NU Dream Team
Jelang pelaksanaan Muktamar ke-35 NU, sejumlah nama mulai mencuat meramaikan bursa kepempinan NU masa khidmat lima tahun mendatang. Kini muncul komposisi The NU Dream Team kepemimpinan NU. Siapa saja?
SuaraNahdliyin.id - Sejumlah nama mulai bermunculan bakal meramaikan hajatan lima tahunan Nahdlatul Ulama (NU). Namun diantara nama yang beredar di lingkungan nahdliyin, terdapat nama tokoh NU yang kerap memberikan setuhan-setuhan untuk meneduhkan umat.
Di antara nama yang muncul dikalangan nahdliyin, ada sosok KH Said Aqil Siroj (Cirebon, Jawa Barat), KH Yusuf Chudlori (Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah), KH Yahya Cholil Staquf (Rembang, Jawa Tengah) dan KH Abdussalam Shohib (Jombang, Jawa Timur). Keempat sosok ini disebut-sebut sebagai tokoh ideal untuk menahkodai NU lima tahun ke depan.
Bahkan keempat tokoh ini dinilai mampu menjadi poros rekonsiliasi untuk menyatukan NU menuju satu kiblat jam’iyyah. Jika formasi ini benar-benar terwujud, PBNU tidak sekadar sedang menjalankan roda organisasi, tapi bisa menjadi 'The Dream Team' PBNU sebagai jembatan rekonsiliasi jam’iyyah.
Karenanya, keempat tokoh ini cukup tepat dalam menjalankan roda organisasi NU dalam menapaki abad kedua NU. KH Said Aqil Siradj menduduki posisi tertinggi di NU sebagai Rais Aam, sangat cocok karena memiliki pengaruh besar di geopolitik internasional. Hal ini terlihat dari perjalanan Kiai Said ketika sebagai Ketua Umum PBNU selama dua periode.
Kehadiran Kiai Said sebagai pucuk pimpinan tertinggi PBNU, selaras dengan sepak terjang KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU di kancah internasional. Bahkan slogan NU yang digaungkan Gus Yahya sapaan KH Yahya Cholil Staquf, yakni “Merawat Jagat, Membangun Peradaban” telah diakui dunia. Slogan ini menjadi gerakan dan semangat NU dalam menebar Islam rahmatan lil alamin secara global.
Meski demikian, untuk menyatukan dua tokoh ini di pucuk syuriyah dan tanfidziyah, tetap membutuhkan restu para kiai sepuh yang tergabung dalam Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA). Sebab, pucuk pimpinan tertinggi di PBNU yakni Rais Aam, merupakan penunjukan langsung dari tim AHWA.
Komposisi ini tentunya tidak lengkap jika tidak didampingi tokoh muda NU yang energik dan memiliki kedekatan emosional serta kultural yang kuat dengan akar rumput NU, terutama di pesantren. Tokoh muda seperti KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) cukup tepat diposisikan sebagai Katib Aam mendampingi Kiai Said, sedangkan Sekretaris Jenderal (Sekjend) yang cocok mendampingi Gus Yahya Adalah KH Abdussalam Shohib (Gus Salam). Kedua tokoh ini memiliki akar rumput yang kuat, dan pengaruh di dunia pesantren juga tidak diragukan lagi.
KH. Yusuf Chudlori, Pengasuh API Tegalrejo Magelang, merupakan representasi kuat dari jangkar pesantren struktural di Jawa Tengah. Gus Yusuf memiliki kemampuan komunikasi publik yang sangat baik dan lihai dalam membaca arah pergerakan politik nasional. Sebagai Katib Aam, ia akan menjadi jembatan administratif dan ideologis yang luwes bagi Kiai Said.
Sedangkan KH Abdussalam Shohib, pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang yang juga dzurriyah muassis NU KH Bisri Syansuri dinilai cukup vocal, berani, dan memiliki kedekatan emosional serta kultural yang kuat dengan akar rumput NU di Jawa Timur. Sebagai Sekjen, Gus Salam akan menjadi mesin penggerak organisasi yang agresif.
Hal ini cocok dengan sikap yang diperlihatkan Gus Yahya selama menjabat Ketua Umum PBNU terlihat cukup agresif dalam menjalankan roda organisasi. Ini terlihat dengan gerakan Gus Yahya yang getol mengkampanyekan program Digitalisasi Data dan Layanan (Digdaya) NU.
Kemunculan keempat tokoh ini, termasuk dirinya sendiri diakui Gus Salam masuk dalam radar bursa calon yang akan meramaikan Muktamar ke-35 NU mendatang. Bahkan, Gus Salam mengaku sudah menjalin komunikasi dengan sejumlah nama, di antaranya Gus Yahya dan H. Saifullah Yusuf atau Gus Ipul meski sudah menyatakan tidak akan mencalonkan diri.
“Iya, maksudnya saya berkomunikasi semuanya. Dengan Gus Yahya komunikasi, dengan Gus Ipul komunikasi. Dengan teman-teman yang ikut ikhtiar juga Gus Yusuf, Kiai Zulfa, kan komunikasi baik,” tegas Gus Salam sembari menyampaikan bahwa semua kader NU berhak untuk mencalonkan diri menjadi Ketum PBNU. (han)