Suara Nahdliyin

Opini

Jangan Potong Antrean Khidmah

Gagasan pentingnya transformasi NU di abad kedua patut diapresiasi. Namun, kepemimpinan NU tidak pernah dibangun hanya atas kapasitas intelektual, jejaring global, atau keberhasilan manajerial.

17 Juli 2026 16.29
Jangan Potong Antrean Khidmah
ilustrasi: istimewa
Karena itu, ketika nama tertentu didorong sebagai calon pemimpin masa depan, pertanyaan yang layak diajukan bukan hanya “seberapa hebat kapasitasnya?”, melainkan juga “seberapa panjang dan mendalam pengabdiannya kepada NU?”.

Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy

Tulisan Gus Miftah berjudul “Satu Abad Selesai: Saatnya NU Menatap ke Depan dengan Kepala Tegak” yang dimuat di Republika pada 14 Juli 2026 menarik untuk dicermati. Dalam tulisan tersebut, Gus Miftah menawarkan gagasan tentang pentingnya transformasi NU di abad kedua sekaligus mengajukan KH Imam Jazuli (Kiai Imjaz) sebagai figur yang dinilai layak memimpin NU ke depan. Argumentasi yang dibangun berangkat dari kapasitas intelektual, pengalaman pendidikan internasional, keberhasilan mengelola pesantren, jejaring global, hingga kemandirian ekonomi yang dimiliki Kiai Imjaz. Semua itu tentu patut diapresiasi sebagai kontribusi pemikiran bagi masa depan NU.

Namun, pertanyaan mendasarnya bukanlah apakah Kiai Imjaz memiliki kapasitas atau tidak. Persoalan yang lebih penting adalah apakah kapasitas tersebut telah disertai dengan rekam jejak khidmah organisasi yang cukup untuk memimpin jam'iyah sebesar Nahdlatul Ulama. Sebab NU bukan perusahaan, bukan lembaga politik, dan bukan pula organisasi yang memilih pemimpinnya semata berdasarkan kemampuan manajerial atau kecakapan intelektual. NU adalah organisasi yang bertumpu pada tradisi khidmah, sanad pengabdian, kematangan organisasi, dan legitimasi moral yang tumbuh melalui proses panjang.

Dalam pandangan saya, NU hari ini masih memiliki banyak kiai dan tokoh yang lebih senior, lebih matang dalam pengalaman organisasi, serta tidak kalah visioner dalam membaca tantangan zaman. Mereka telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk membesarkan NU dari berbagai tingkatan, mulai dari ranting, cabang, wilayah, hingga nasional. Karena itu, terasa terlalu dini jika figur tertentu langsung didorong sebagai solusi tunggal bagi masa depan NU hanya karena memiliki sejumlah keunggulan yang memang patut dihargai.

Ada satu hal yang sering luput dalam diskusi mengenai regenerasi kepemimpinan NU. Organisasi ini tidak pernah mengalami krisis figur. Dari masa ke masa, NU selalu melahirkan kader-kader dengan kapasitas keilmuan yang kuat, pengalaman organisasi yang panjang, dan visi yang jauh ke depan. Karena itu, persoalan utama NU bukanlah mencari sosok yang cerdas atau progresif, melainkan menemukan figur yang mampu menyatukan otoritas keilmuan, pengalaman organisasi, kebijaksanaan sosial, dan legitimasi moral secara bersamaan. Kriteria tersebut tidak lahir dalam waktu singkat, tetapi ditempa melalui proses pengabdian yang panjang dan berlapis.

Tradisi NU selama lebih dari satu abad menunjukkan bahwa kepemimpinan lahir dari proses yang panjang. Para tokoh besar NU mendapatkan kepercayaan bukan karena pencitraan atau promosi personal, melainkan karena pengabdian yang teruji oleh waktu. Di dalam tradisi pesantren dikenal istilah ngabdi sebelum memimpin. Dalam konteks organisasi, prinsip itu juga berlaku. Kepemimpinan bukan hak yang diperoleh karena kemampuan semata, melainkan amanah yang diberikan setelah seseorang dianggap cukup matang oleh komunitasnya.

Dalam kultur NU, khidmah bukan sekadar aktivitas organisatoris, melainkan proses pendewasaan kepemimpinan. Seseorang yang lama berkhidmah akan memahami bahwa NU bukan hanya struktur kepengurusan, melainkan juga jaringan pesantren, tradisi keilmuan, kultur sosial, dan jutaan warga dengan latar belakang yang sangat beragam.

Pengalaman menghadapi berbagai dinamika itulah yang membentuk ketahanan seorang pemimpin. Karena itu, senioritas dalam NU bukan sekadar soal usia atau lamanya berada di organisasi, tetapi juga ukuran sejauh mana seseorang telah ditempa oleh pengalaman melayani umat dan menjaga persatuan jam'iyah.

Selain itu, kedekatan Kiai Imjaz dengan dunia politik, khususnya keterlibatan yang selama ini cukup terlihat di lingkungan PKB, juga menjadi catatan yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Tentu setiap warga NU memiliki hak untuk berkiprah di ruang politik. Namun, ketika berbicara tentang kepemimpinan puncak organisasi, kemampuan menjaga jarak yang proporsional dengan kepentingan politik praktis menjadi sangat penting. NU memiliki Khittah yang menempatkan organisasi sebagai rumah besar seluruh warga nahdliyin, bukan milik satu kelompok politik tertentu. Karena itu, persepsi publik mengenai independensi calon pemimpin juga perlu menjadi pertimbangan.

Saya sepakat bahwa NU membutuhkan pemimpin yang visioner, memahami perkembangan teknologi, menguasai isu global, dan mampu membawa pesantren beradaptasi dengan perubahan zaman. Akan tetapi, visi besar tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan proses kaderisasi dan tradisi khidmah yang selama ini menjadi kekuatan utama NU. Justru pemimpin NU yang ideal adalah mereka yang mampu memadukan keduanya: memiliki pandangan jauh ke depan sekaligus mempunyai akar pengabdian yang kuat di dalam tubuh organisasi.

Karena itu, alih-alih terburu-buru mengorbitkan figur tertentu, akan lebih bijak jika NU tetap menghormati proses alamiah kaderisasi yang telah diwariskan para muassis dan masyayikh. Kiai Imjaz mungkin memiliki potensi besar dan kontribusi yang penting bagi NU. Namun, menurut saya, perjalanan khidmah masih perlu diperpanjang dan diperkaya. Dalam organisasi sebesar NU, kemampuan memang penting, tetapi kesabaran menjalani proses pengabdian sering kali jauh lebih menentukan.

Kita tentu tidak ingin NU terjebak pada romantisme masa lalu. Namun kita juga tidak boleh terjebak pada euforia figur baru. Sejarah menunjukkan bahwa organisasi besar sering kali menghadapi masalah bukan karena kekurangan gagasan, melainkan karena tergoda melakukan lompatan yang terlalu jauh dari tradisi yang selama ini menjadi sumber kekuatannya.

NU berhasil bertahan lebih dari satu abad karena mampu memadukan pembaruan dengan kesinambungan, perubahan dengan kehati-hatian, serta visi masa depan dengan penghormatan terhadap proses. Prinsip inilah yang seharusnya tetap menjadi pegangan dalam menentukan arah kepemimpinan organisasi.

NU tidak sedang kekurangan tokoh. NU juga tidak kekurangan pemikir. Yang dibutuhkan adalah pemimpin yang tidak hanya mampu menawarkan masa depan, tetapi juga memiliki akar yang kokoh dalam tradisi pengabdian yang menjadi ruh Nahdlatul Ulama selama lebih dari satu abad. Sebab di NU, memimpin bukan soal siapa yang paling cepat berlari ke depan, melainkan siapa yang paling lama dan paling tulus berjalan bersama umat.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb


Penulis adalah pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik; Penasehat LBM PCNU Kabupaten Gresik