Suara Nahdliyin

Aswaja

Jangan Meremehkan Amal Ibadah Meski Sederhana

Diterima tidaknya amal ibadah seseorang, tidak dilihat dari besar dan kecilnya amal atau ibadah orang tersebut. Terkadang, amal ibadah yang kecil ataupun ringan, justru yang diterima Allah SWT. Karenanya jangan sekali-kali meremehkan amal ibadah yang kecil, meski hanya seberat biji zarah.

30 Mei 2026 17.30
Jangan Meremehkan Amal Ibadah Meski Sederhana
Amalan sedekah ringan tetapi berat pahalanya. (foto: istimewa)

Amal ibadah merupakan pengabdian umat manusia kepada Allah SWT. Setiap amal ibadah yang dilakukan umat Islam memiliki potensi untuk diterima dan ditolak Allah SWT. Namun, umat Islam tentunya berharap semua amal ibadahnya diterima di sisi Allah. Lalu, amal seperti apa yang paling diterima Allah SWT?

Jawabannya terdapat dalam kitab Al-Hikam, sebuah kitab tasawuf karya Ibnu Athaillah yang sangat populer di dunia Islam selama berabad-abad, sampai hari ini. Kitab ini berisi kalam hikmah, pemahaman tauhid, akhlak, dan ma'rifatullah. Ibnu Athaillah As Sakandari dalam karyanya tersebut mengatakan: “Tiada amal yang lebih perpeluang diterima daripada amal yang tidak kau sadari dan tidak berarti di matamu.”

Dalam syarahnya di kitab al-Hikam terbitan TuRos, Syekh Abdullah Asy Syarqawi menjelaskan bahwa “amal yang yang tidak kau sadari” itu maksudnya adalah amalmu yang engkau yakini, dibimbing dan dilakukan Allah. Tanpa Allah, niscaya amal itu tidak akan kau lakukan.

Sedangkan “amal yang tidak berarti di matamu” itu maksudnya adalah amal yang tidak engkau jadikan sandaran untuk meraih sebuah keinginan, seperti keinginan untuk bisa sampai kepada Allah dan dekat dengan-Nya atau keinginan mendapatkan derajat dan kedudukan tinggi. Bahkan, engkau masih memandang amal itu kurang sempurna dan tidak terbebas dari cacat yang membuatnya sulit diterima Allah.

Menurut Alquran Allah SWT akan membalas sekecil apapun amal. "Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (QS Az Zalzalah: 7-8).

Apa hikmahnya bagi kita? Kita jangan mengabaikan kebaikan sekecil apapun, dan juga jangan menganggap remeh keburukan sekecil apapun. Kita harus selalu waspada terhadap semua hal kecil yang bisa menjadi amal atau yang bisa menjadi dosa. Kecil menurut kita belum tentu kecil dalam pandangan Allah.

Rasulullah SAW pun mengingatkan kita, saat berbuat dosa, “Janganlah engkau memandang besar atau kecilnya maksiat, tapi pandanglah kepada siapa engkau bermaksiat (kepada Allah)”.

Kita pun jangan membanding-banding sebuah amal dengan amal lainnya. Allah SWT tidak melihat dari besar kecilnya sebuah amal, Allah SWT hanya melihat nilai keikhlasan dan keistiqamahan kita dalam mengerjakannya.

Boleh jadi amal yang kita lakukan itu terleihat sepele dalam pandangan manusia, tapi dalam begitu besar dalam pandangan Allah SWT. Begitu pun sebaliknya, kita melakukan sebuah amal yang besar dalam pandangan kita, tapi teramat kecil dan tidak bernilai dalam pandangan Allah SWT.

Sebagai contoh, mengambil ranting kayu di tengah jalan dan dibuang di tempat sampah, atau shodaqoh kepada orang lain dengan nominal uang kecil. Amal ini terlihat sepele, tapi akan bernilai luar biasa bila dilakukan dengan ikhlas dan istiqamah.

Kita pun bisa menjadi mulia karena hal-hal kecil, seperti mengucapkan terima kasih kepada orang lain yang membantu, mendahului orang mengucap salam, meminta maaf, melempar senyum dengan ikhlas, mempermudah urusan orang, atau pun menunjukkan raut muka yang cerah. ris