Warta
Jagongan Jelang Muktamar ke-35 NU di Malang, Ini 9 Point Usulannya
KH Atho' Lukman Hakim menekankan pentingnya kader dan pengurus NU kembali meluruskan niat dalam mengabdi.
MALANG (SuaraNahdliyin.id) - Sejumlah pengasuh pondok pesantren bersama akademisi, aktivis dan anak muda Nahdlatul Ulama (NU) mengadakan forum "Jagongan Jelang Muktamar NU" di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Al Hamid, Ganjaran, Gondanglegi, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Rabu (8/7/2026) malam. Diskusi yang berlangsung gayeng ini mengusung tema Pesantren, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan.
Sekitar tiga jam para peserta bertukar gagasan mengenai masa depan pesantren dan NU dalam menyongsong abad kedua organisasi. Dari forum tersebut tercetus sembilan poin seruan moral yang diharapkan menjadi bahan refleksi menjelang Muktamar ke-35 NU di Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang pada 27-31 Agustus 2026.
Tampak di antara peserta diskusi antara lain pengasuh Ponpes Bahrul Ulum Al Hamid KH Atho' Lukman Hakim; pengasuh Pesantren Rakyat yang juga Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Malang sekaligus Sekretaris Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kabupaten Malang KH Abdullah Sam; Bendahara PC GP Ansor Kabupaten Malang Syahrul Karim; serta CEO Tugu Media Group yang juga Wakil Ketua PC GP Ansor Kota Malang Irham Thoriq.
Selain itu hadir pula Wakil Ketua PC GP Ansor Kabupaten Malang Alauddin Alex, CEO Sabda Academy M. Yasin Arief, Ketua Jaringan Nahdliyin Muda (JNM) M. Mahrus, pengasuh Pondok Pesantren Dzunuroin Arrofiqi Pakis Gus Arif Billah, pengasuh Pesantren Rakyat Takhosus Gus Shidiq Zamzam, perwakilan ISNU Kabupaten Malang Hasyim, perwakilan Gusdurian Erik Priyanto, dosen Universitas Al Qolam Nurul Azizah, konsultan hukum Khoirul, serta peserta lain dari kalangan dosen, santri, dan mahasiswa.
Dalam paparan pembuka acara, KH Atho' Lukman Hakim menekankan pentingnya kader dan pengurus NU kembali meluruskan niat dalam mengabdi.
"Kita harus menempatkan Allah SWT pada posisi sentral. Singkatnya, bagaimana segala tindak kita membuat Allah SWT tidak marah kepada kita dan rida kepada kita," kata KH Atho'.
Ia juga menegaskan bahwa pesantren tidak sekadar menjadi tempat menuntut ilmu, melainkan telah menjadi sebuah cara berpikir, bersikap, dan bertindak.
"Pesantren adalah budaya yang adiluhung. Jadi pesantren selalu punya cara merespons keadaan ekonomi dan budaya kita sehari-hari," katanya.
Sementara itu, KH Abdullah Sam berharap pesantren tidak meninggalkan tradisi yang selama ini menjadi kekuatan utamanya, termasuk tradisi ruhani. "Kita dijaga oleh wirid-wirid para kiai, santri, dan jamaah di kampung-kampung. Tidak ada rasa khawatir sama sekali karena Allah SWT akan menjaga kita," ujarnya.
Menurut dia, pesantren memiliki peran strategis dalam perjalanan bangsa Indonesia. Saat masa penjajahan Belanda, para gus atau putra kiai turut berkoordinasi untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Ia juga berharap Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tetap menjadi lembaga yang independen dan tidak berada di bawah pengaruh pihak luar, termasuk pemerintah.
"Misal calon ketua umum jangan minta restu kepada tukang sirkus. Kalau tukang sirkus itu memberi makan, nanti mau tidak mau akan mengendalikan tukang sirkus tersebut," katanya menggunakan analogi. Entah terkait atau tidak, seperti diketahui, ada politisi senior yang memakai analogi akrobat pemain sirkus untuk menyindir pihak tertentu tapi ia kena bumerang alias justru menampar dirinya sendiri lantaran dirinya dituduh tukang sirkus itu sendiri.
Dalam kesempatan yang sama, M. Yasin Arief menilai pesantren yang belakangan mendapat sorotan perlu membangun narasi yang lebih positif agar citra baik pesantren semakin dikenal masyarakat. "Menurut saya ada tiga hal yang penting untuk didalami di pesantren, yakni teknologi, sains, dan cara berpikir," ujarnya.
Sementara itu, Irham Thoriq menekankan pentingnya pesantren mempersiapkan santri menghadapi perubahan zaman. Menurut dia, masyarakat kini mulai bergeser dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri.
"Bagaimana pesantren bisa menyiapkan itu misalnya dengan keterampilan vokasional, kreativitas, dan lain sebagainya. Karena lahan kita untuk bertani sudah semakin menyempit, sehingga mau tidak mau kita harus menjadi masyarakat industri," katanya.
Sembilan Seruan Moral
Sebagai hasil diskusi, forum "Jagongan Jelang Muktamar NU" menghasilkan sembilan poin seruan moral yang ditujukan sebagai refleksi sekaligus harapan menjelang Muktamar NU.
Berikut point-pointnya:
1. Setiap kader dan pengurus Nahdlatul Ulama (NU) di semua tingkatan diharapkan senantiasa kembali menata niat. Seluruh aktivitas diniatkan semata-mata untuk mencari rida Allah SWT melalui khidmah yang penuh keikhlasan.
2. Nahdlatul Ulama (NU) diharapkan kembali kepada khittah sebagai kekuatan masyarakat sipil dengan melayani masyarakat dari berbagai lapisan melalui program-program yang berbasis kebutuhan umat.
3. Perlu terus dirajut sinergi antara agama, budaya, dan negara agar dapat berjalan seiring, saling menguatkan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
4. Pesantren sebagai entitas penting dalam Nahdlatul Ulama (NU) perlu membangun narasi yang positif sekaligus terus mengembangkan sains, teknologi, dan cara berpikir yang relevan dengan perkembangan zaman.
5. Pesantren dan Nahdlatul Ulama (NU) tidak boleh anti-kritik serta harus terbuka menerima masukan dari berbagai pihak.
6. Pesantren sebagai entitas utama Nahdlatul Ulama (NU) perlu menyiapkan santri agar mampu berkiprah di dunia industri. Pergeseran dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri harus dijawab melalui penguatan keterampilan vokasional dan pembentukan pola pikir global.
7. Di lapangan masih ditemukan banyak siswa madrasah aliyah (MA) yang belum fasih membaca Al-Qur'an. Karena itu, diusulkan adanya tes membaca Al-Qur'an pada setiap jenjang pendidikan menjelang kelulusan. Sertifikat kelulusan tes membaca Al-Qur'an diharapkan menjadi salah satu syarat untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya.
8. Sistem pendidikan pesantren dinilai sebagai sistem yang telah teruji oleh zaman dan berhasil melahirkan banyak tokoh bangsa. Karena itu, pesantren diharapkan semakin percaya diri dalam menyongsong abad kedua Nahdlatul Ulama (NU).
9. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) diharapkan tetap steril dari berbagai bentuk intervensi pihak eksternal yang berupaya mengendalikan NU untuk kepentingan tertentu, termasuk intervensi dari penguasa.
Melalui sembilan seruan moral tersebut, para peserta berharap Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) tidak sekadar menjadi agenda pergantian kepemimpinan organisasi, melainkan juga menjadi momentum untuk memperkuat khidmah, menjaga kemandirian NU dan pesantren, serta meneguhkan peran keduanya dalam menjawab tantangan zaman melalui penguatan nilai-nilai keislaman, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan pemberdayaan masyarakàt. (Jok)