Jam'iyyah
Gus Yahya Ulas Urgensi Transformasi Digital NU di Tengah Arus Perubahan
SUMENEP (SuaraNahdliyin.id) - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Yahya Cholil Staquf, menegaskan pentingnya transformasi organisasi di tubuh Nahdlatul Ulama agar tetap relevan menghadapi perubahan zaman. Menurutnya, NU harus mampu mengelola jam’iyah
SUMENEP (SuaraNahdliyin.id) - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Yahya Cholil Staquf, menegaskan pentingnya transformasi organisasi di tubuh Nahdlatul Ulama agar tetap relevan menghadapi perubahan zaman. Menurutnya, NU harus mampu mengelola jam’iyah dengan cara-cara baru, termasuk penguatan konsolidasi dan digitalisasi organisasi.
"Bila tidak, maka ancaman terbesar yang dihadapi adalah kepunahan," ujarnya saat menyampaikan orasi Ke-NU-an dalam pelantikan PCNU Sumenep di Pondok Pesantren Al-Karimiyyah, Gapura, Sumenep, Sabtu (16/05/2026).
Gus Yahya, sapaan karibnya, menyinggung tema pelantikan PCNU Sumenep yakni “Transformasi Jam’iyah dalam Berkhidmat untuk Kemaslahatan Umatâ€. Menurutnya, tema tersebut sejalan dengan agenda besar PBNU pada periode ini.
Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang ini menjelaskan, PBNU saat ini membawa tiga agenda utama, yakni transformasi organisasi, reposisi jam’iyah secara lebih strategis, dan penguatan peran internasional NU dalam isu-isu kemanusiaan global.
“Maka transformasi ini adalah tema besar yang diusung PBNU. Alhamdulillah, disambut baik oleh PCNU Sumenep,†katanya.
Gus Yahya juga memaparkan langkah PBNU dalam membangun konsolidasi organisasi berbasis sistem yang objektif, transparan, dan modern. Salah satunya melalui pengembangan platform digital NU bernama Digdaya.
“NU menurut survei mencakup lebih separuh warga Indonesia. Sebanyak 57 persen warga Indonesia mengaku NU. Tidak mungkin dikelola secara manual,†jelasnya.
Ia meminta seluruh struktur NU, termasuk PCNU Sumenep, mengintegrasikan sistem digital daerah dengan platform nasional agar tata kelola organisasi lebih efektif dan terukur.
Tak hanya itu, PBNU juga tengah mengembangkan sistem Digdaya berbasis kecerdasan buatan (AI) serta memperluas pelatihan kader melalui PD-PKPNU, PMKNU, hingga Akademi Kepemimpinan NU.
“Kita memasuki zaman baru yang segala sesuatunya berubah. Maka mengelola jam’iyah ini harus dengan cara baru supaya tetap relevan dan bisa bertahan. Kalau tidak, ancamannya adalah kepunahan,†ucapnya.
Menurut Gus Yahya, NU didirikan bukan untuk memulai khidmat kepada umat dari nol, melainkan untuk mempersatukan kekuatan khidmat para ulama dan pesantren yang sejak lama telah mengakar di tengah masyarakat.
“Kalau berbicara khidmat pelayanan umat, itu bukan barang baru. Dari dulu, sebelum NU didirikan, para kiai sudah menggeluti khidmat kepada umat,†katanya.
Ia menyebutkan, tujuan utama pendirian NU oleh KH. Hasyim Asy’ari adalah mempersatukan khidmat para ulama agar menjadi kekuatan besar yang memiliki daya manfaat lebih luas dibanding berjalan sendiri-sendiri.
“Jangan sendirian, harus bersama-sama. Diajak bersatu mempersatukan khidmat,†pungkasnya. (nhr)