Suara Nahdliyin

Jam'iyyah / Muktamar NU

Gus Yahya Tegaskan Presiden Tak Cawe-Cawe, Apalagi Beri Restu Calon Ketum PBNU

Isu adanya kandidat Calon Ketua Umum PBNU telah mendapat restu dari Presiden Prabowo Subianto adalah berita hoaks alias bohong. Hal ini ditegaskan oleh Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf.

14 Juli 2026 23.37
Gus Yahya Tegaskan Presiden Tak Cawe-Cawe, Apalagi Beri Restu Calon Ketum PBNU
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf saat memberikan keterangan pers di gedung PBNU Jakarta, Selasa (14/7/2026).

JAKARTA (SuaraNahdliyin.id) – Munculnya isu adanya kandidat Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah mendapat restu dari Presiden RI Prabowo Subianto, dibantah tegas oleh Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya). Ia menegaskan, isu adanya cawe-cawe istana di Muktamar ke-35 NU nanti adalah berita hoaks alias bohong.

Pernyataan tegas tersebut disampaikan Gus Yahya dalam konferensi pers di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (14/7/2026). Ia menilai Presiden dan Istana tidak memiliki kepentingan untuk mencampuri urusan internal organisasi Islam terbesar di Indonesia itu.

"Saya tidak melihat juga kepentingan Presiden atau Istana misalnya untuk mempengaruhi, untuk cawe-cawe terkait dengan NU ini, buat apa? Enggak ada gunanya bagi pemerintah, enggak ada gunanya bagi presiden sendiri misalnya," ujar Gus Yahya.

Ia mengaku telah mendengar kabar tentang pihak-pihak yang mencatut nama Presiden dalam kontestasi pencalonan. Namun, ia mengingatkan bahwa isu tersebut tidak akan berpengaruh, karena NU memiliki tradisi dan mekanisme organisasi yang matang serta independen sejak awal berdiri.

"Kalau ada yang mengklaim bahwa dia misalnya direstui, bahkan diperintah oleh presiden (itu) pasti bohong," tegas Gus Yahya.

"Dan itu tidak akan mempan kepada NU cabang-cabang, karena NU ini by nature memang independen sejak awal, sehingga tidak mudah untuk dipengaruhi dengan isu-isu yang tidak relevan seperti itu," tambahnya.

Ia menjelaskan, NU sebagai organisasi besar yang lahir pada 1926 atau 19 bulan sebelum kemerdekaan Indonesia, telah memiliki kematangan dalam menyelesaikan dinamika internal secara mandiri. Gus Yahya juga meyakini Presiden Prabowo sangat menghormati NU dan tidak akan mengganggu proses muktamar. “Saya yakin, Presiden sangat menghormati NU,” tegas Gus Yahya.

Sementara itu, Muktamar ke-35 NU sendiri dijadwalkan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. “Insya Allah persiapan sudah dilakukan dengan baik,” kata Gus Yahya.

Menurut Gus Yahya, dipilihnya Pondok Pesantren Tambakberas sebagai lokasi muktamar memberikan ketenangan bagi warga Nahdliyin. Sebab, pesantren tersebut didirikan oleh salah satu pendiri NU sekaligus soko guru ruhani NU, KH Abdul Wahab Chasbullah.

“Dengan berkah daripada pesantren Tambakberas ini, Insya Allah kita bisa mengharapkan muktamar yang lancar, harmonis, serta menghasilkan keputusan yang membawa manfaat dan kemaslahatan bagi warga NU, bangsa Indonesia, dan kemanusiaan seluruhnya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Muktamar ke-35 NU akan membahas sejumlah agenda strategis, mulai dari penyusunan roadmap NU untuk 25 tahun ke depan, penguatan nilai-nilai keulamaan, transformasi pesantren, pengembangan sistem kaderisasi, penerapan manajemen digital, hingga penguatan inisiatif ekonomi warga.

Gus Yahya juga mengungkapkan, salah satu capaian penting kepengurusan PBNU periode ini adalah penerapan sistem manajemen digital dari tingkat pusat hingga Majelis Wakil Cabang (MWC). “Apabila dikembangkan dengan strategi yang tepat dan terkoneksi dalam sistem digital, daya jangkau kepada warga akan semakin efektif,” pungkasnya. rai