Jam'iyyah / Muktamar NU
Gus Yahya Tegaskan Pemimpin NU Mendatang Harus Siap Hadapi Tatanan Dunia Baru
Gus Yahya telah mendiskusikan soal tatanan dunia baru dengan Menlu RI Sugiono. Mereka sepakat perang AS-Israel melawan Iran beserta proksinya, memicu perubahan luar biasa besar pada tatanan dunia.
JOMBANG (SuaraNahdliyin.id) - Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menyinggung tentang tatanan dunia baru yang harus dihadapai Nahdlatul Ulama (NU) ke depan. Maksudnya, pemimpin NU dan Nahdliyin ke depan juga harus siap menghadapi dunia baru yang secara fundamental berubah tersebut.
"NU memasuki momentum yang sangat krusial, yaitu abad kedua NU di tengah-tengah lingkungan yang berubah secara fundamental, tidak hanya lingkungan domestik, tapi juga lingkungan internasional, akan ada dunia baru," kata Gus Yahya saat ditemui di sela sowan ke Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Minggu (12/7/2026). Kunjungan Gus Yahya ke Ponpes Bahrul Ulum ini sekaligus untuk melihat persiapan ponpes yang didirikan oleh salah satu ulama pendiri NU, KH Abdul Wahab Chasbullah ini, menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 NU pada 27-31 Agustus 2026 mendatang.
Soal tatanan dunia baru tersebut, Gus Yahya mengaku telah mendiskusikannya dengan Menteri Luar Negeri RI Sugiono. Mereka sepakat perang yang berkecamuk antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran beserta proksinya, memicu perubahan luar biasa terhadap dunia. Hal ini akan memicu konstruksi dunia baru yang tak akan kembali seperti sedia kala, layaknya dampak pandemi COVID-19.
"Ibaratnya seperti COVID-19 yang memunculkan kenormalan baru yang tidak bisa balik lagi. Ini juga begitu, ke depan ada dunia baru. Kita harus berpikir secara strategis, termasuk nanti para ulama hadir di tengah-tengah dunia baru. Sehingga harus memahami betul seluk-beluk dunia baru dan bagaimana di tengah-tengah konstruksi yang baru itu, NU bisa berfungsi lebih baik, lebih strategis dan lebih nyata manfaatnya bagi semua manusia," katanya.
Harapan tersebut, lanjut Gus Yahya, sejalan dengan pesan dasar yang berulang kali dia dengarkan dari berbagai riwayat yang disampaikan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah, salah seorang ulama pendiri NU sekaligus pendiri Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.
"Mudah-mudahan muktamar ini di bawah naungan berkah KH Wahab Hasbulloh serta para muassis pendiri NU yang lain, menghasilkan keputusan-keputusan yang tepat sebagai landasan bagi masa depan NU yang lebih baik, lebih gemilang, lebih manfaat dan lebih berkah," katanya.
Gus Yahya juga menegaskan kesiapannya untuk kembali maju dalam bursa calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 NU. Di hadapan keluarga besar pesantren dan dzuriyah salah satu tokoh pendiri (muassis) NU, KH Abdul Wahab Hasbullah itu, Gus Yahya mengungkapkan alasan di balik keputusannya untuk kembali maju dalam kontestasi kepemimpinan PBNU.
Ia menjelaskan bahwa langkah ini diambil sebagai bagian dari kewajiban dan hak syariat yang diyakininya untuk menuntaskan sejumlah janji serta rencana strategis organisasi yang belum sepenuhnya terealisasi selama periode pertamanya.
"Dulu saya maju sebagai Ketua Umum PBNU dengan janji-janji untuk melakukan sejumlah hal. Tapi karena keadaan, ada beberapa hal yang belum terlaksana,” kata Gus Yahya
“Seandainya dalam keadaan normal, semua yang saya janjikan selesai sebelum muktamar," tambahnya.
Gus Yahya mengibaratkan beberapa program kerja yang belum tuntas tersebut sebagai "utang" organisasi yang menjadi tanggung jawab moralnya untuk segera dilunasi jika kembali diberi amanah oleh warga Nahdliyin.
"Makanya saya minta waktu untuk melunasi utang. Jika diberi waktu, nah, kalau tidak diberi waktu berarti utang saya dianggap lunas. Sehingga tidak akan ditagih lagi di yaumul hisab," ujar dia.
Selain menegaskan kesiapannya maju kembali, Gus Yahya juga menyampaikan rasa syukur dan bahagianya atas keputusan strategis PBNU yang menetapkan Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang sebagai lokasi pelaksanaan Muktamar ke-35 NU. Menurut Gus Yahya, pemilihan lokasi ini sangat krusial karena memiliki nilai historis dan spiritual yang mendalam. Tambakberas merupakan tempat kelahiran KH Abdul Wahab Chasbullah, salah satu pilar utama pendiri Nahdlatul Ulama. PBNU berharap penempatan ini mampu menjawab kerinduan warga Nahdliyin akan forum akbar yang sarat akan atmosfer spiritual ulama sepuh.
"Saya sangat bahagia bahwa tercapai keputusan pelaksanaan muktamar NU di pesantren Tambakberas Jombang," tutur Gus Yahya. "Karena Tambakberas ini tempat lahirnya pendiri NU Kiai Wahab Chasbullah. Insya Allah harapan muktamar dinaungi berkah ulama dan muassis membesarkan hati kami. Semoga menghasilkan keputusan yang membawa maslahat bagi jamiyah, bagi negara, dan bagi umat serta kemanusiaan," lanjutnya.
Seperti diberitakan SuaraNahdliyin.id sebelumnya, Gus Yahya sowan ke Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Minggu pagi sekitar pukul 09.00 WIB, segera setelah tiba di Tanah Air dari kunjungan ke Iran atas permintaan Presiden Prabowo Subianto mendampingi Menlu Sugiono melakukan takziyah ke almarhum Ayatollah Sayyid Ali Khamenei di Mashhad Iran. Saat tiba di Ponpes Bahrul Ulum, Gus Yahya disambut Ketua Majelis Pengasuh Ponpes Bahrul Ulum, KH Hasib Wahab Chasbullah dan Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum (YPPBU) Tambakberas, KH Abdurrozaq Sholeh.
Pertemuan mereka berlangsung di ruangan utama Ndalem Kasepuhan Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, Desa Tambakrejo, Kecamatan/Kabupaten Jombang. Silaturahmi tersebut berlangsung sekitar 1 jam. Gus Yahya juga melihat kesiapan pesantren ini menjadi tuan rumah Muktamar NU ke-35 pada 27-31 Agustus 2026. (jok)