Suara Nahdliyin

Jam'iyyah / Muktamar NU

Gus Salam Desak Muktamar NU Mandiri dan Terbebas Intervensi

Rencana pelaksanaan Muktamar ke-35 NU tahun ini mendapat perhatian dari Pengasuh Ponpes Mambaul Maarif Denanyar Jombang, KH Abdussalam Shohib. Ia berharap Muktamar NU yang mandiri dan jauh dari intervensi pihak luar.

3 Juni 2026 19.31
Gus Salam Desak Muktamar NU Mandiri dan Terbebas Intervensi
Gus Salam saat memberikan keterangan kepada wartawan terkait rencana Muktamar NU.

SURABAYA (SuaraNahdliyin.id) – Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaul Maarif Denanyar Jombang, KH Abdussalam Shohib mendesak pelaksanaan Muktamar NU yang mandiri dan terbebas dari intervensi dari pihak manapun. Di samping itu, kemandirian tersebut harus mencakup seluruh aspek, mulai dari pembiayaan hingga penyelenggaraan acara.

Menurutnya, Muktamar PBNU yang mandiri akan menghasilkan proses pemilihan yang lebih bersih, transparan dan berintegritas. “Muktamar harus mandiri dan independen. Mandiri dalam pembiayaan dalam perhelatan dan independen dari intervensi siapa pun, khususnya eksternal,” kata Gus Salam sapaan akrabnya, Rabu (3/6/2025).

Ia menegaskan, kemandirian dalam pelaksanaan Muktamar bukan hal yang mustahil untuk diwujudkan oleh warga Nahdlatul Ulama. Gus Salam mencontohkan pengalaman sebelumnya, ketika ia bersama sejumlah pihak berhasil mengumpulkan dana sekitar Rp4 miliar dari kalangan nahdliyin di Jawa Timur untuk mendukung kegiatan PBNU menjelang Muktamar di Lampung.

Hal ini, kata Gus Salam, menjadi bukti nyata bahwa semangat kemandirian di lingkungan NU sangat kuat. “Dalam waktu satu bulan bisa terkumpul sekitar Rp4 miliar. Itu sudah luar biasa,” tegas cucu salah satu muassis NU KH Bisri Syansuri ini.

Gus Salam juga menyebutkan adanya dukungan dari sejumlah pesantren di Jawa Timur yang siap menjadi tuan rumah Muktamar PBNU. Di antaranya, Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet Mojokerto, Pondok Pesantren Walisongo, Situbondo, dan Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri.

“Kesiapan ini menunjukkan besarnya partisipasi dan antusiasme warga NU di Jawa Timur untuk menyukseskan Muktamar NU,” tutur Gus Salam.

Menurut Gus Salam, kemandirian juga perlu mencakup aspek akomodasi peserta Muktamar agar tidak bergantung pada pihak tertentu. Hal ini dinilai penting untuk menghindari potensi intervensi dalam proses organisasi.

“Dengan sistem yang mandiri, ide dan gagasan yang muncul dalam Muktamar akan lebih murni dan sesuai kebutuhan jam’iyah,” tegasnya.

Lebih jauh, Gus Salam mengingatkan pentingnya menurunkan ego masing-masing pihak di internal PBNU, agar Muktamar dapat berjalan efektif dan kondusif. Ia juga menyoroti perlunya penguatan solidaritas dalam penentuan berbagai aspek teknis, termasuk lokasi pelaksanaan Muktamar.

“Harapan kami PBNU mau lebih mengedepankan kepentingan jam’iyah daripada kepentingan pribadi,” tegasnya. han