Jam'iyyah / Banom
Gus Barra Bangga Kirim Kader Terbaik Ansor ke PKN XI 2026
PKN bukan sekadar pelatihan biasa, melainkan kawah candradimuka untuk mencetak pemimpin masa depan yang berwawasan global namun tetap kokoh memegang nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah.
MOJOKERTO (SuaraNahdliyin.id) – Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor (PC GP Ansor) Kabupaten Mojokerto mengirimkan lagi kader terbaiknya mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) ke-XI di Ponpes Bumi Sholawat Sidoarjo. Pelatihan ini merupakan jenjang pengkaderan tertinggi dalam organisasi pemuda di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) tersebut.
Dua kader tersebut yaitu Sahabat Ibnu Qohar yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Umum PC GP Ansor Mojokerto serta Sahabat Moch Shofiyudin Sekretaris Bidang Kaderisasi. Keduanya baru saja mengikuti pelatihan selama enam hari pada tanggal 7 hingga 12 Juli 2026, bertempat di Pondok Pesantren Progresif Bumi Shalawat, Sidoarjo, Jawa Timur.
Ketua PC GP Ansor Kabupaten Mojokerto, Gus Barra, menyampaikan rasa bangga dan harapan besarnya kepada dua kadernya itu. PKN bukan sekadar pelatihan biasa, melainkan kawah candradimuka untuk mencetak pemimpin masa depan yang berwawasan global namun tetap kokoh memegang nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah.
“Ini adalah momentum penting. Mengirimkan kader ke tingkatan PKN berarti kita sedang mempersiapkan lokomotif organisasi yang siap menjawab tantangan zaman, baik di sektor sosial, keagamaan, maupun kebangsaan,” kata Gus Barra.
Sementara Sekretaris PC GP Ansor Kab. Mojokerto Ibnu Qohar berpesan kepada seluruh kader Ansor yang mengikuti jenjang kaderisasi mulai dari tingkatan PKD, PKL hingga PKN. Jenjang kaderisasi ini penting untuk dilaksanakan secara berkesinambungan.
“Jangan pernah berhenti berproses. PKD, PKL, hingga PKN bukan sekadar jenjang kaderisasi, tetapi perjalanan membentuk karakter, integritas, dan pengabdian. Teruslah belajar, berkhidmat dengan ikhlas, dan jaga loyalitas kepada organisasi, ulama, serta NKRI. Percayalah, setiap proses yang dijalani dengan kesungguhan akan melahirkan pemimpin yang mampu membawa manfaat bagi umat, bangsa, dan Nahdlatul Ulama,” katanya.
PKN Tahun 2026 diikuti 90 peserta perwakilan dari Aceh sampai NTT. Provinsi Jawa Timur sendiri mengirimkan 27 kader terbaiknya. Dalam sambutannya, ketua PW GP Ansor Jawa Timur Sahabat Musaffa Safril menegaskan bahwasannya 27 kader ini adalah benar-benar kader pilihan. Jalur istikharah jalur bumi maupun langit juga ditempuh, sehingga lolosnya kader ini melalui proses seleksi yang sangat ketat.
Dalam kesempatan yang sama, Sahabat Moch Shofiyuddin memaknai PKN ini dengan sudut pandang yang cukup kompleks. Integritas seorang kader tidak akan dipertanyakan lagi jika mampu melewati jenjang kaderisasi berjenjang.
“Peserta PKN itu diundang, bukan mendaftar. Proses uji kelayakannya ketat. Sebab, yang berproses di sini bukan lagi dicetak menjadi pimpinan PC / PAC tetapi kelas Wilayah (provinsi) bahkan setingkat Nasional. Kesempatan ini tidak akan saya sia-siakan untuk membuktikan secara nyata bahwa hal yang paling berharga adalah proses yang dijalani dari bawah untuk merangkak berkembang naik ke atas, bukan ujuk-ujuk berada pada level tinggi tanpa proses kaderisasi,” katanya.
Instruktur PKN selalu menekankan pentingnya membaca arah zaman. Kader tidak hanya dibekali ilmu Problem Solving saja, melainkan harus bisa dikonversi menjadi solusi nyata.
“Tantangan terbesar kita saat ini adalah soal pengetahuan & teknologi. Menjawab tantangan zaman yang berubah, sebagai kader Ansor wajib mengupgrade kapasitas SDM, meningkatkan kemampun dengan menjadi pembelajar sepanjang hayat melalui proses baik secara formal, informal maupun non-formal dalam proses pengkaderan. Kader Ansor kerap kali dikenal masih kudet, di era teknologi saat ini masih belum banyak lahir Kader-kader yang ahli di bidang IoT, Desain Grafis, AI, Robotika, serta Program Komputerisasi. Hal ini yang wajib menjadi isu-isu strategis yang harus menjadi bisang garap Ansor ke depan selain kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan sebagai isu strategis nasional,” kata Shofiyuddin.
Dipilihnya Pondok Pesantren Progresif Bumi Shalawat sebagai lokasi PKN dinilai sangat strategis. Pesantren yang dikenal memadukan nilai luhur pesantren dengan sistem modern yang progresif ini diharapkan mampu menginspirasi para peserta untuk membawa pulang gagasan-gagasan segar dan inovatif demi kemajuan daerah.
Selama pelatihan, kedua kader tersebut digembleng dengan berbagai materi strategis, mulai dari geopolitik, ketahanan nasional, manajemen organisasi modern, hingga strategi dakwah digital.
“Di PKN kita dibekali dengan Proyek Sosial. Proyek sosial wajib dilaksanakan oleh masing-masing lulusan PKN untuk dilaksanakan di daerahnya. Proyek sosial ini berisikan rencana kerja yang akan dilakukan setelah mengikuti PKN dan wajib memberikan dampak kepada masyarakat agar lebih berdaya & sejahtera. Itulah yang akan dieksekusi oleh lulusan dan alumni agar keberadaan dan eksistensi produk lulusan PKN dapat dirasakan sampai ke tingkat ranting/desa-desa,” ujarnya.
Sekembalinya dari Sidoarjo, usai pelatihan, para kader ini diharapkan langsung tancap gas untuk melakukan mentransfer ilmu (transformasi pengetahuan) kepada kader-kader di tingkat pimpinan anak cabang (kecamatan) hingga pimpinan ranting (desa). (jok)