Suara Nahdliyin

Jam'iyyah

Deklarasi Pesantrenku Aman PBNU, Gus Yahya: Pesantren Telah Membangun Pondasi Peradaban Bangsa

“Pesantren tak hanya melahirkan kader, kiai dan ulama yang menjadi kebanggaan, tetapi juga berhasil membangun pondasi peradaban yang tak ternilai bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” ujar Gus Yahya.

3 Juni 2026 22.39
Deklarasi Pesantrenku Aman PBNU, Gus Yahya: Pesantren Telah Membangun Pondasi Peradaban Bangsa
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, saat menghadiri Gerakan Nasional Pesantrenku Aman di Pondok Pesantren Al Yasini, Pasuruan, Selasa (2/6/2026). (Foto: Istimewa)

PASURUAN (SuaraNahdliyin.id) - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf, menegaskan bahwa pesantren tidak hanya melahirkan kiai dan ulama yang menjadi panutan umat, tetapi juga membangun pondasi peradaban bangsa yang sangat berharga dan tak ternilai.

“Pesantren bukan hanya telah melahirkan kader, kiai dan ulama yang menjadi kebanggaan kita, tetapi juga berhasil membangun pondasi peradaban yang tak ternilai bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” ujarnya saat menghadiri kegiatan Gerakan Nasional Pesantrenku Aman di Pondok Pesantren Al Yasini, Kabupaten Pasuruan, Selasa (2/6/2026).

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang itu menyebutkan, nilai-nilai yang tumbuh di lingkungan pesantren telah berkembang menjadi bagian dari peradaban masyarakat, salah satunya adalah keikhlasan.

Ia kemudian menceritakan pengalamannya bertemu seorang tokoh sepuh eks Laskar Hizbullah yang pada masa mudanya pernah meminta izin kepada KH Bisri Musthofa untuk bergabung dengan Tentara Republik Indonesia (TRI) setelah pemerintah melebur Laskar Hizbullah ke dalam tentara nasional.

"Namun, saat itu KH Bisri Musthofa justru melarangnya. Beliau berkata, ‘Kalau di Hizbullah itu menjadi pegawainya Gusti Allah, kalau di TRI menjadi pegawainya pemerintah, malah turun'," kata Gus Yahya mengutip pesan Kiai Bisri.

Menurut Gus Yahya, cara berpikir seperti itu menunjukkan betapa nilai keikhlasan telah menjadi bagian dari jati diri kader-kader pesantren.

Ia juga mengisahkan pengalamannya ketika berdialog dengan almaghfurlah KH Maimun Zubair. Saat itu, Mbah Maimun menanyakan apakah pesantren yang dikelolanya memiliki lembaga pendidikan ABC atau formal.

Menurut Gus Yahya, dahulu ia hanya mengelola pendidikan diniyah berbasis kitab kuning dengan jumlah santri sekitar 100 orang. Namun setelah membuka pendidikan formal, jumlah santri meningkat drastis hingga mencapai ribuan.

“Saya dulu hanya mengajar Alif Ba Ta dan kitab-kitab pesantren, santrinya sekitar 100 orang. Ketika membuka sekolah formal, dalam waktu singkat jumlah santri mencapai dua ribu orang,” tuturnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa kekuatan utama pesantren tetap terletak pada tradisi keilmuan, pengabdian, dan keikhlasan yang diwariskan para ulama.

"Karena mental keihklasan yang sesungguhnya dibangun di pesantren," tuturnya.

Karena itu, menurut Gus Yahya, keberadaan pesantren perlu terus diperkuat melalui berbagai lembaga dan program yang mampu menjaga peran strategis pesantren sebagai fondasi peradaban di tengah perubahan zaman yang semakin kompleks.

“Peradaban yang dibangun pesantren ini sangat berharga. Karena itu sudah selayaknya nilai-nilai pesantren diabadikan dan diperkuat melalui berbagai kelembagaan agar tetap menjadi pondasi kehidupan masyarakat di masa depan,” pungkasnya. (nhr)