Suara Nahdliyin

Religi / Haji & Umrah

Arab Saudi Tak Beri Labbaytum Award kepada RI, Mengapa?

Arab Saudi cenderung memperhatikan negara dengan kuota jamaah haji kecil. Meski demikian Saudi apresiasi perubahan yang dilakukan Indonesia.

6 Juni 2026 07.00
Arab Saudi Tak Beri Labbaytum Award kepada RI, Mengapa?
Jamaah haji

MAKKAH (SuaraNahdliyin.id) - Pemerintah Arab Saudi ternyata tidak memberikan penghargaan Labbaytum Award. Sebuah penghargaan dari Arab Saudi kepada negara lain atas kualitas penyelenggaraan haji tahun ini, khususnya keunggulan manajemen haji.

Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, pun merespon isu penghargaan (award) perhajian internasional ini sebab kerap memicu perdebatan di publik. Dahnil mengatakan, menurut pihak Saudi, metode penilaian penghargaan tersebut cenderung subjektif dan tidak mencerminkan realitas beban kerja yang setara di lapangan (not apple to apple).

Ketidakadilan indikator penilaian terlihat dari kecenderungan pemberian penghargaan yang lebih dominan menyasar negara-negara dengan kuota jamaah kecil. Sebaliknya, tantangan masif yang dihadapi negara dengan basis jamaah terbesar di dunia justru kerap terabaikan dalam sistem pemeringkatan tersebut.

"Negara-negara dengan basis jamaah terbesar seperti Indonesia, India, dan Pakistan justru tidak masuk dalam award itu. Namun, yang jelas Pemerintah Arab Saudi sangat mengapresiasi perubahan signifikan yang dilakukan Indonesia," kata Dahnil.

Dahnil mengatakan itu usai pertemuan dengan Wakil Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi, Dr Fatah Al-Mashat saat melakukan kunjungan mendadak ke Kantor Daerah Kerja (Daker) Makkah, Kamis 6/6/2026). Pertemuan ini untuk membahas peningkatan kualitas pelayanan jamaah sekaligus mengurai kepadatan di wilayah Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).

Sebagai mitigasi jangka panjang untuk menekan angka kematian (mortality rate) jamaah di Tanah Suci, Kemenhaj RI berkomitmen memperketat implementasi istitha'ah kesehatan sejak dari dalam negeri. Kebijakan ini juga selaras dengan nota kesepahaman dan desakan rutin dari Kerajaan Arab Saudi untuk memastikan aspek keselamatan jamaah yang memiliki risiko tinggi.

"Kasus-kasus seperti demensia dan komorbid yang berpotensi meningkatkan mortalitas akan kita kurangi. Skrining di dalam negeri akan jauh lebih ketat," ucap Dahnil menegaskan orientasi keselamatan jamaah.

Selain pembenahan sektor medis jamaah, pemerintah juga bersiap mengambil langkah berani berupa reformasi radikal pada tata kelola keuangan haji di tanah air. Upaya penataan ini dilakukan guna membentengi ketahanan dana haji dari potensi lonjakan kuota nasional di masa depan.

Proses revisi Undang-Undang Keuangan Haji kini sedang digulirkan secara intensif dengan melibatkan koordinasi lintas sektoral antara Kemenhaj, Kementerian Keuangan, dan Kemensetneg.

"Kita harus berani melakukan perubahan tata kelola keuangan haji agar lebih terbuka dan transparan. Sepulang dari sini, saya bersama Pak Menteri akan menghadap Presiden Prabowo dan berkomunikasi dengan DPR. Kita harus ambil komitmen bersama untuk menyelamatkan tata kelola perhajian kita," tutur Dahnil.

Terkait pertemuan itu, langkah diplomasi tingkat tinggi ini melahirkan tawaran opsi strategis berupa penerapan skema tanazul hingga 50 persen bagi jamaah Indonesia guna mengatasi keterbatasan lahan hunian tenda yang krusial di Mina.

Dalam pertemuan tersebut, Pemerintah Arab Saudi juga secara terbuka menyampaikan apresiasi tinggi terhadap langkah-langkah perubahan mendasar yang diusung oleh Presiden Prabowo Subianto dalam pengelolaan haji Indonesia. Kedatangan Dr Fatah Al-Mashat disambut langsung oleh Wakil Menteri Haji dan Umrah RI sekaligus Naib Amirulhaj, Dahnil Anzar Simanjuntak.

Keterbatasan ruang di Mina yang memicu kepadatan ekstrem setiap musimnya menjadi topik paling mendesak dalam pertemuan bilateral tersebut. Guna menjamin keselamatan publik, otoritas Arab Saudi menawarkan kompensasi jaminan fasilitas di Mina, asalkan manajemen haji Indonesia berani mengambil kebijakan memulangkan atau memindahkan sebagian jamaah ke hotel asal di Makkah setelah prosesi wajib haji selesai.

"Mina itu sangat terbatas, hanya sekitar belasan hektar. Pihak Saudi menyampaikan kalau bisa ditanazulkan (dipulangkan-Red) 50 persen, mereka akan mempertimbangkan untuk meminta jaminan di Mina," ujar Dahnil Anzar Simanjuntak.

Merespons proposal tersebut, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI akan segera mematangkan kalkulasi teknis dan operasional. Sinergi ini bertujuan memaksimalkan skema tanazul tanpa mengurangi keabsahan rukun haji jamaah.

"Ke depan kita akan bekerja bareng dengan Kementerian Haji Arab Saudi untuk mempersiapkannya sejak awal," ujar Dahnil. (rpk/jok)